Breaking News

Bukan Soal Modal, Melainkan Iklim : Refleksi Ekonomi Banggai Kepulauan Pasca Penyegaran OPD

Oleh : Irwanto Diasa

Bangkep, Sulteng - Banggai Kepulauan kerap disebut sebagai daerah dengan potensi besar. Namun hingga kini, potensi tersebut masih lebih sering hadir sebagai narasi hitam di atas putih, belum sepenuhnya menjelma menjadi denyut ekonomi yang nyata. 

Geliat ekonomi masih terasa sebagai barang mewah dan langka bagi sebagian besar masyarakat.

Pasca penyegaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai pembantu Bupati, harapan publik tentu mengarah pada perubahan iklim pembangunan ekonomi yang lebih progresif.

Namun penelusuran media menemukan adanya kefasifan yang masif di berbagai sektor strategis, terutama sektor produksi.

Paradoks Sektor Kelautan dan Perikanan

Data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah menempatkan Banggai Kepulauan sebagai salah satu penyumbang komoditas perikanan lebih dari 80 persen di tingkat provinsi. Angka ini “meledak” di data provinsi, namun justru landai di lokus daerah.

Ironisnya, kebutuhan ikan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banggai Kepulauan sendiri belum sepenuhnya terpenuhi.

Kontribusi sektor perikanan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) pun terbilang minim, tidak sebanding dengan kondisi geografis Bangkep yang didominasi laut dengan garis pantai sekitar 830 kilometer.

Peternakan : Produksi Lokal Tertinggal

Kondisi serupa terjadi di sektor peternakan. Lebih dari 95% kebutuhan daging ayam dan telur di Banggai Kepulauan masih disuplai dari luar daerah, seperti Makassar, Luwuk bahkan Surabaya.

Fakta ini juga berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan MBG yang terus meningkat.

Dua warga Kecamatan Bulagi, sebut saja O dan Y, justru memilih berinvestasi peternakan ayam di Kota Luwuk. Alasannya sederhana namun mendasar.

“Kalau di Luwuk, kami hanya bangun kandang. Soal pakan, penyakit dan pemasaran sudah ditangani perusahaan,” tutur mereka.

Sebaliknya, beberapa warga yang sempat beternak ayam di Banggai Kepulauan mengaku harus gulung tikar.

“Pakan sulit, kalau ada penyakit bingung harus konsultasi ke mana, belum lagi pemasaran. Daripada buntung lebih besar, lebih baik berhenti,” ungkap seorang mantan peternak.

Pertanian dan Ketergantungan Pasar Luar

Di sektor pertanian, ketergantungan terhadap daerah lain juga masih tinggi. Sayur-mayur, buah-buahan, hingga rempah-rempah mayoritas masih didatangkan dari Kota Luwuk, termasuk untuk memenuhi kebutuhan program MBG.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada ketersediaan lahan semata, melainkan pada ekosistem produksi yang belum terbentuk dengan baik.

Pariwisata dan Harapan Integrasi

Sektor pariwisata untuk sementara layak diberi catatan khusus. Potensinya besar, namun baru belakangan ini disadari secara kolektif. Harapan kini bertumpu pada road map pariwisata yang telah disusun agar benar-benar diimplementasikan secara konsisten.

Upaya Bupati dan Gubernur dalam mengintegrasikan kekuatan dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat patut diapresiasi, dengan catatan harus dijalankan secara masif dan berkelanjutan, bukan sebatas seremoni perencanaan.

Telekomunikasi : Pilar yang Terabaikan

Telekomunikasi dan jaringan data merupakan pilar penting dalam memperluas relasi ekonomi masyarakat. Namun di sejumlah desa, kualitas jaringan justru mengalami kemunduran.

Sejumlah warga mengaku kecewa karena jaringan (signal-red) yang sebelumnya cukup baik kini menghilang.

“Dulu jaringan di sini bagus, sekarang sudah hilang. Padahal dulu kami mudah komunikasi dengan bos sapi di Luwuk,” ujar seorang peternak tradisional di Desa Osan.

Padahal, teknologi informasi sempat menjadi harapan baru bagi petani dan peternak untuk memasarkan komoditas mereka secara mandiri.

Berhenti Sejenak, Menentukan Arah

Seorang rekan penulis yang bertugas sebagai Polisi Kehutanan di Kabupaten Sigi pernah berujar : “Ketika kita tersesat di hutan, yang harus dilakukan adalah berhenti sejenak, melihat arah matahari, mengambil kompas, menentukan arah, lalu menyusun rencana perjalanan dan target yang ingin dicapai.”
Refleksi ini relevan untuk Banggai Kepulauan hari ini

Persoalan utama bukan semata soal modal, melainkan iklim ; iklim kebijakan, iklim pendampingan, iklim kepastian usaha dan iklim keberpihakan pada produksi lokal.

Dengan iklim yang tepat, Banggai Kepulauan bukan hanya akan dikenal sebagai daerah potensial tetapi benar-benar menjadi Berkah, Maju, dan Berdaya Saing. (*)
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS