Sulteng - Mendasari konflik antara Ukraina dan Rusia dibelahan eropa serta antara Israel dan Hamas (Plestina-red) di timur tengah, hal ini bisa berdampak pada terciptanya ketidakpastian perekonomian secara global.
Perang ini, sangat berkontribusi pada terhambatnya perdagangan internasional, terutama di jalur perdagangan antara Eropa dan Asia.
Dari berbagai sumber analis ekonomi global, konflik ini telah berdampak pada kenaikan harga barang-barang impor, termasuk bahan pangan dan energi.
Menyikapi hal ini, generasi muda pegiat control sosial dan pemerhati lingkungan dan pertanian asal Nambo, sebut saja Handanon mengatakan kalau perang dikedua blok tersebut bisa mempengaruhi munculnya ketidak pastian pasar terutama menyangkut ekspor-import, lebih khusus lagi soal eksport bahan pangan hasil produksi dalam negeri. Bahkan ini bisa memicu Inflasi.
"Inflasi yang terjadi akibat perang ini telah mempengaruhi ketergantungan pangan masyarakat," kata Handanon.
Lanjut Handanon, untuk mengatasi dampak perang terhadap perekonomian nasional, pemerintah diminta untuk mengambil langkah-langkah strategis.
"Pemerintah harus mengambil langkah strategis guna meningkatkan produksi pangan dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada impor dan mencari alternatif jalur perdagangan internasional," imbuhnya.
Sementara itu disisi lain, masyarakat diminta untuk menanam tanaman pangan guna memenuhi kebutuhan pangan yang cukup dalam jangka panjang.
"Masyarakat harus mulai menanam dan memproduksi pangan sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada impor," tambahnya.
Dengan demikian, kita dapat mengurangi dampak ketdak pastian geopolitik global terhadap perekonomian nasional dan memastikan ketersediaan pangan yang cukup dimasa yang akan datang.
"Ini harapan saya khususnya kepada teman-teman petani dan tentunya pemerintah agar terus menjembatani petani guna meningkatkan ketersediaan pangan yang cukup, namun kita berharap situasi kedepan masih baik-baik saja, difase 5 sampai 10 tahun kedepan," tutupnya. (red)
Social Header