Sulteng - Viral di media sosial sebuah peristiwa pengangkutan jenazah menggunakan sepeda motor di Kabupaten Banggai Kepulauan menuai perhatian publik. Menanggapi kejadian tersebut, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Ronald Gulla, angkat suara. Penjelasan tersebut disampaikannya melalui akun media sosial atas nama Ronald Gulla pada Senin (1/6/2026).
Dalam unggahannya, Ronald Gulla menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Aziel serta mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.
Dalam keterangannya, Ronald Gulla mengaku telah menerima sejumlah laporan dari lapangan terkait pelayanan ambulans yang menjadi sorotan masyarakat. Atas laporan tersebut, pihaknya mengaku telah memberikan teguran kepada pengurus yang bertanggung jawab atas pengelolaan ambulans.
"Setelah mendapatkan beberapa laporan dari lapangan, kami juga sudah menegur pengurus atas hal yang terjadi," tulis Ronald Gulla dalam unggahan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa ambulans yang diusulkan dan diadakan di beberapa wilayah Banggai Kepulauan, seperti Tompudau di Kecamatan Salakan, Malanggong di Kecamatan Buko, Landonan di Kecamatan Buko Selatan, serta sejumlah desa lainnya, selama ini turut digunakan untuk membantu masyarakat, terutama di wilayah yang belum memiliki mobil jenazah.
Menurut Ronald Gulla, secara aturan ambulans memang diperuntukkan bagi pelayanan pasien dan orang sakit. Namun dalam kondisi tertentu yang bersifat darurat, mendesak, dan menyangkut aspek kemanusiaan, pelayanan kepada masyarakat seharusnya tetap menjadi prioritas.
Dari pantauan awak media ini di lapangan, branding pada ambulans yang menjadi sorotan tidak menunjukkan identitas Program Berani Sehat milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Sebaliknya, pada badan kendaraan tampak foto salah satu anggota legislatif provinsi.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai asal-usul pengadaan kendaraan tersebut. Namun hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi yang menyatakan bahwa ambulans tersebut merupakan bagian dari program Berani Sehat yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Tengah.
Berdasarkan pengamatan awak media, kemungkinan ambulans tersebut berasal dari bantuan sosial, hibah perusahaan swasta, atau bantuan individu tertentu. Dugaan tersebut muncul setelah tidak ditemukan identitas maupun atribut resmi yang mengarah pada program Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
"Awalnya kami mengira ambulans tersebut merupakan bagian dari Program Berani Sehat. Namun setelah melihat langsung kendaraan yang digunakan, tidak ditemukan atribut maupun identitas resmi program tersebut sehingga besar kemungkinan ambulans itu berasal dari pihak lain," demikian hasil pengamatan awak media di lapangan.
Sementara itu, Ronald Gulla mengungkapkan bahwa pengelolaan ambulans saat ini sedang dievaluasi bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan ambulans berjalan sesuai tujuan awal pengadaannya.
Bahkan, Ronald Gulla menyebut tidak menutup kemungkinan ambulans yang saat ini dikelola oleh pihak tertentu akan ditarik dan dialihkan ke wilayah lain yang lebih membutuhkan atau kepada pengurus yang dinilai mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan publik terhadap layanan transportasi jenazah di Banggai Kepulauan setelah beredarnya informasi mengenai jenazah yang terpaksa diangkut menggunakan sepeda motor karena keterbatasan sarana yang tersedia.
Masyarakat berharap evaluasi yang dilakukan dapat menghasilkan perbaikan nyata dalam pelayanan ambulans sehingga kebutuhan masyarakat, baik dalam kondisi darurat medis maupun situasi kemanusiaan lainnya, dapat terpenuhi secara cepat dan layak. (red)

Social Header