Akhirnya kajian nutrisi berbasis kearifan lokal melalui pemberdayaan perempuan mulai dilaksanakan di Depok. Bagi saya, gagasan ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan pengembangan dari pengalaman yang telah dirintis sejak tahun 2008 ketika saya bekerja di Puskesmas Duren Seribu. Bersama Kelompok Wanita Tani, kami mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam cabai dan berbagai sayuran semusim, membudidayakan lele dalam tong, memelihara ikan di kolam terpal, serta beternak ayam kampung sebagai sumber pangan keluarga.
Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi kajian yang sejak 2017 telah masuk ke Pusat Kajian UGM, disebarluaskan kepada berbagai organisasi dan pemimpin redaksi, serta kini sedang dibukukan bersama sejumlah kajian program lainnya. Gagasan yang saya ajukan kepada pemerintah Indonesia berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui ketahanan pangan keluarga berbasis kearifan lokal, bukan program makan bergizi gratis.
Karena itu, saya mempertanyakan mengapa program yang kemudian menjadi prioritas nasional justru berbeda dari konsep yang saya usulkan. Saya sependapat dengan kritik yang menyatakan bahwa kepentingan politik dan kebencian antarkelompok dapat menghambat lahirnya program yang dinilai lebih memberdayakan masyarakat.
Meskipun Depok menyimpan banyak pengalaman yang kurang menyenangkan dalam kehidupan pribadi saya, kota ini berulang kali menjadi tempat pertama terwujudnya berbagai gagasan yang pernah saya perjuangkan, termasuk mengenai BPJS. Bagi saya, Depok merupakan kota percontohan yang menguji apakah sebuah gagasan dapat diterapkan sebelum berkembang menjadi program yang lebih luas di tingkat nasional.

Social Header