Banggai Kepulauan (23/7/2026) - Festival Seasea bukan sekadar agenda budaya tahunan. Lebih dari itu, festival ini merupakan ruang kolektif untuk merawat warisan peradaban, memperkuat identitas budaya, sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Banggai Kepulauan kepada masyarakat luas.
Melalui beragam pertunjukan seni, sastra, musik tradisional, tari, kuliner khas, kerajinan hingga berbagai ekspresi budaya lainnya, Festival Seasea menjadi cermin kekayaan peradaban lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Seasea sendiri dikenal sebagai sebuah peradaban yang berkembang pada komunitas suku spesifik di wilayah Banggai Kepulauan. Pusat persebarannya diyakini berada di kawasan lima kecamatan yang dikenal sebagai Bulagi Bersaudara dan Buko Bersaudara.
Berbagai literatur, catatan sejarah, serta tradisi lisan masyarakat menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki peran penting dalam membentuk demografi, nilai-nilai sosial, serta kebudayaan masyarakat Banggai Kepulauan hingga Banggai Laut.
Sejak pertama kali digagas, Festival Seasea telah diselenggarakan sebanyak enam kali. Inisiatif awal lahir dari Pemerintah Kecamatan Bulagi Selatan bersama pemerintah desa se-Kecamatan Bulagi Selatan dengan pelaksanaan perdana di Desa Bonepuso. Selanjutnya festival terus berkembang dan digelar di berbagai desa, yakni dua kali di Desa Lukpanenteng, kemudian di Desa Ombuli, Desa Buko, dan Desa Sambulangan.
Dalam beberapa penyelenggaraan terakhir, festival juga mendapat dukungan dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang turut berkontribusi dalam penguatan konsep, dokumentasi, hingga promosi kegiatan.
Pada Agustus 2026, Festival Seasea dijadwalkan berlangsung di Desa Lumbi-Lumbia, Kecamatan Buko Selatan.
Berdasarkan informasi dari sejumlah pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan, festival tahun ini diperkirakan menjadi penyelenggaraan terakhir yang mendapat pendampingan manajemen dari tim KKN UGM. Setelah itu, estafet pengelolaan diharapkan sepenuhnya kembali kepada masyarakat adat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan di Banggai Kepulauan.
Perjalanan Festival Seasea tentu belum dapat dikatakan sempurna. Masih terdapat berbagai tantangan, mulai dari penguatan konsep, pendanaan, promosi, hingga upaya menjadikan festival ini sebagai identitas budaya sekaligus daya tarik utama sektor pariwisata daerah. Namun demikian, perjalanan enam kali penyelenggaraan menunjukkan bahwa Festival Seasea memiliki fondasi yang kuat untuk terus berkembang.
Ke depan, keberhasilan Festival Seasea tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. Diperlukan kolaborasi yang berkelanjutan antara Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan, pemerintah kecamatan dan desa, lembaga adat, akademisi, pelaku seni dan budaya, komunitas kreatif, sektor swasta serta masyarakat luas.
Sinergi tersebut penting agar Festival Seasea tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi instrumen pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif, pendidikan karakter generasi muda, dan promosi pariwisata berbasis kearifan lokal.
Pada akhirnya, Festival Seasea adalah investasi kebudayaan. Nilainya tidak semata diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari kemampuannya menjaga memori kolektif, memperkuat jati diri masyarakat, serta mewariskan kebanggaan budaya kepada generasi mendatang. Sudah saatnya Festival Seasea ditempatkan sebagai aset strategis Kabupaten Banggai Kepulauan yang layak mendapat perhatian, dukungan dan komitmen bersama agar terus hidup, berkembang, dan menjadi roh kebudayaan serta wajah pariwisata daerah di masa depan.
Penulis : Irwanto/Kabiro

Social Header