Breaking News

Menjadi Pewaris Nama Besar Adalah Amanah, Bukan Keistimewaan

Oleh : Novita Sari Yahya

Pertanyaan wartawan :

"Luar biasa. Bagaimana rasanya memiliki leluhur yang begitu besar jasanya bagi bangsa ?"

Jawaban :

Banyak orang mengira bahwa menjadi keturunan tokoh bangsa adalah sebuah keistimewaan. Mereka membayangkan kami hidup berkecukupan, memiliki banyak kemudahan, dan menikmati warisan yang melimpah. Kenyataannya tidak demikian.

Bagi saya, menjadi cicit dan cucu dari tokoh yang memiliki jejak dalam sejarah bangsa bukanlah sebuah privilese, melainkan amanah yang membawa tanggung jawab besar. Warisan yang saya terima bukanlah harta benda, melainkan nama baik, nilai-nilai kehidupan, serta kewajiban moral untuk menjaganya.

Nama baik itu tidak boleh ternoda. Setiap langkah, setiap ucapan, bahkan setiap keputusan yang saya ambil sering kali dinilai bukan hanya sebagai pribadi Novita Sari Yahya, tetapi juga sebagai cerminan dari keluarga yang telah mengabdikan hidupnya bagi bangsa.

Di situlah letak beban yang sering kali tidak dipahami banyak orang. Kami juga manusia biasa. Kami memiliki keterbatasan, kekurangan, dan harus berjuang mencari penghidupan seperti masyarakat pada umumnya. Kami tidak hidup di atas nama besar keluarga, tetapi harus bekerja keras dengan kemampuan yang kami miliki.

Banyak orang juga beranggapan bahwa sebagai keturunan tokoh bangsa, kami mewarisi kekayaan. Faktanya, tidak ada harta yang diwariskan kepada kami. Bahkan dalam perjalanan hidup, ada masa-masa ketika kondisi keuangan kami sangat sederhana. Namun, saya tidak pernah menganggap keadaan itu sebagai alasan untuk mengorbankan prinsip hidup.

Saya memilih bekerja dengan kemampuan sendiri. Saya menulis buku, melakukan penelitian, berkarya, membangun organisasi, dan mengembangkan berbagai kegiatan sesuai dengan kapasitas yang saya miliki. Saya berusaha memaksimalkan setiap potensi yang Allah titipkan agar dapat hidup mandiri, hidup sederhana, dan menghargai setiap hasil kerja keras.

Yang juga sering tidak dipahami adalah bahwa beban moral setiap orang tidaklah sama. Bagi sebagian orang, kesalahan yang dilakukan mungkin hanya dipandang sebagai tanggung jawab pribadi. Namun, bagi saya, kesalahan sekecil apa pun dapat dikaitkan dengan nama keluarga. Orang mungkin akan berkata, "Masa keturunan Jahja Datoek Kajo berperilaku seperti itu ?"

Kalimat seperti itu menunjukkan bahwa nama besar tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa harapan, sekaligus tuntutan. Yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi pribadi, tetapi juga kehormatan para pendahulu yang telah membangun nama itu melalui perjuangan, integritas, dan pengabdian.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya mungkin tidak akan pernah menjadi secemerlang ayah saya, Dr. Enir Reni Sagaf Yahya, tidak sehebat kakek saya, Dr. Sagaf Yahya, ataupun sebesar buyut saya, Jahja Datoek Kajo, yang telah meninggalkan jejak penting dalam sejarah bangsa.

Namun, saya mempunyai satu prinsip yang akan terus saya pegang. Saya mungkin tidak mampu menyamai kebesaran mereka, tetapi saya tidak ingin menjadi seorang oportunis, apalagi menjadi pengkhianat bangsa. Saya ingin menjalani hidup dengan jujur, menjaga integritas, bekerja keras, serta memberikan manfaat sesuai kemampuan saya.

Bagi saya, itulah makna sesungguhnya menjadi pewaris nama besar. Bukan menikmati kemuliaan yang telah dibangun orang lain, melainkan berusaha agar nama itu tetap dihormati oleh generasi berikutnya.

Warisan terbesar yang saya terima bukanlah kekayaan, melainkan kehormatan. Dan kehormatan itu hanya dapat dijaga melalui karakter, kerja keras, kejujuran, serta pengabdian yang nyata kepada masyarakat dan bangsa.
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS