Banggai, Sulteng - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) diharapkan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan makanan bergizi bagi penerima manfaat, tetapi juga mampu mengangkat potensi pangan lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Harapan tersebut disampaikan warga Bangkep (15/9/2026) yang mendorong agar pelaksanaan MBG di daerah itu turut mempertimbangkan bahan pangan lokal, salah satunya ubi talas atau bete', yang dikenal luas dalam kehidupan masyarakat setempat.
Bahkan, warga mengusulkan agar olahan berbahan dasar bete' yang dikenal sebagai Payot, salah satu kuliner khas Bangkep, dapat dipertimbangkan menjadi salah satu menu alternatif dalam program MBG.
Menurut warga, usulan tersebut bukan sekadar untuk memperkenalkan makanan tradisional, tetapi juga sebagai upaya agar program pemerintah dapat memberikan ruang bagi potensi pangan dan ekonomi masyarakat lokal.
“Jangan sampai kuliner lokal kita hanya menjadi penonton. Kalau bete' dapat diolah menjadi makanan yang memenuhi standar gizi dan keamanan pangan, tentu sangat baik apabila bisa dipertimbangkan menjadi salah satu menu MBG,” harap warga.
Foto : Penjual dan Bete' di salah satu pasar di Bangkep
Dengan demikian, MBG tidak hanya memberikan manfaat kepada penerima makanan, tetapi juga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di daerah.
Namun, warga menyadari bahwa setiap menu yang digunakan dalam program MBG harus memenuhi ketentuan dan standar yang telah ditetapkan, terutama berkaitan dengan kandungan gizi, keamanan pangan, kualitas bahan baku, proses pengolahan serta distribusi.
Karena itu, mereka berharap pemerintah daerah dapat memetakan potensi pangan lokal Bangkep dan menyampaikannya kepada pihak yang berwenang dalam pelaksanaan MBG untuk dikaji sesuai ketentuan.
Bete' yang selama ini menjadi salah satu bahan pangan masyarakat Bangkep dinilai memiliki nilai lebih ketika dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis olahan. Salah satunya Payot, yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner lokal masyarakat setempat.
Bagi warga, momentum pelaksanaan MBG seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan pangan lokal sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
Mereka berharap program tersebut tidak hanya menghadirkan makanan bergizi dari luar daerah, tetapi juga memberi kesempatan kepada pangan lokal Bangkep untuk masuk dan bersaing berdasarkan kualitas serta standar yang berlaku.
Dengan demikian, MBG di Bangkep diharapkan bukan hanya menjadi program pemenuhan gizi, tetapi juga momentum untuk mengangkat pangan lokal, memperkuat ekonomi masyarakat dan menjaga keberadaan kuliner khas daerah agar tetap dikenal oleh generasi mendatang. (red/tim/Biro Bangkep)

Social Header