Banggai, Sulteng - Nasib baik menghampiri seorang petani penggarap di Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Tak memiliki lahan sawah sendiri dan mengaku bukan anggota kelompok tani, petani tersebut justru mendapat perhatian langsung dari Menteri Pertanian Republik Indonesia (Mentan RI) Andi Amran Sulaiman.
Perhatian itu berujung pada pemberian bantuan hand tractor, setelah petani tersebut berdialog langsung dengan Mentan Amran saat kunjungan kerja dalam agenda Panen Raya Padi di Desa Tirtasari, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Kamis (10/9/2026).
Dalam dialog tersebut, petani itu menyampaikan kondisi yang dihadapinya kepada Mentan. Ia mengaku bukan anggota kelompok tani karena keanggotaan kelompok tani di terbatas sekitar 25 orang.
Petani tersebut juga menyampaikan bahwa dirinya tidak memiliki lahan sawah sendiri. Selama ini, ia tetap menjalankan aktivitas pertanian dengan menggarap lahan milik pihak lain dengan kata lain sebagai petani penggarap.
Aspirasi tersebut mendapat respons langsung dari Mentan Amran. Kementerian Pertanian sendiri menyebut dialog dengan petani menjadi bagian penting dalam kunjungan tersebut untuk mengetahui secara langsung hambatan dan kebutuhan petani di lapangan.
Pada kesempatan itu, Mentan menekankan bahwa pemerintah harus hadir sebagai pelayan masyarakat. Menurutnya, jajaran pemerintah tidak seharusnya bersikap pasif dengan hanya menunggu petani datang menyampaikan kebutuhan.
Mentan juga menegaskan pentingnya pemerintah secara aktif mencari dan memperbarui data petani agar berbagai program bantuan, termasuk akses terhadap pupuk bersubsidi, dapat diberikan kepada petani yang membutuhkan.
“Kita ini pelayan, bukan tunggu dilayani. Tugas kita mencari data petani bukan menjadi pelayan yang pasif,” tutur Mentan Amran Sulaiman.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pelayanan kepada petani harus dilakukan secara aktif, dengan pemerintah turun langsung untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan mereka.
Dalam dialog yang sama, Mentan kemudian memberikan perhatian kepada petani penggarap tersebut melalui bantuan hand tractor.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Kementerian Pertanian untuk memperkuat mekanisasi pertanian. Dalam kunjungannya di Toili, Mentan juga menyerahkan bantuan alsintan dan pompa air secara simbolis serta menegaskan pentingnya modernisasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Petani Bukan Sekadar Penerima Bantuan
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa persoalan petani di tingkat lapangan tidak selalu berkaitan dengan produksi. Akses terhadap sarana pertanian, keanggotaan kelompok tani, lahan garapan, pupuk dan alat mesin pertanian juga menjadi bagian penting yang menentukan keberlangsungan usaha tani.
Bagi petani penggarap yang tidak memiliki sawah sendiri, bantuan alat pertanian dapat menjadi dukungan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengolah lahan yang digarap.
Kehadiran Mentan di Toili juga menjadi momentum bagi pemerintah pusat untuk melihat langsung potensi pertanian di Kabupaten Banggai.
Desa Tirtasari, Kecamatan Toili, menjadi lokasi Panen Raya Padi yang dihadiri Mentan bersama Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, Bupati Banggai Amirudin, jajaran pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani dan para petani.
Bupati Banggai sebelumnya menyampaikan bahwa kawasan dataran Toili memiliki sekitar 15.000 hektare sawah yang masa panennya berlangsung secara bertahap hingga November 2026.
Produksi padi Banggai juga disebut mampu memenuhi kebutuhan daerah dan menghasilkan surplus yang dapat dipasok ke daerah lain.
Karena itu, dukungan terhadap petani menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas kawasan tersebut.
Bagi seorang petani penggarap yang tidak memiliki sawah sendiri dan mengaku bukan anggota kelompok tani, dialog langsung dengan Menteri Pertanian itu akhirnya menghadirkan kejutan yang tidak biasa.
Dari sebuah percakapan mengenai kondisi petani di lapangan, ia mendapat bantuan hand tractor.
Boleh jadi, bagi petani tersebut, Panen Raya di Toili kali ini benar-benar menjadi momentum “ketiban bulan”. (rin)

Social Header