Breaking News

Bukan Harga, Ini yang Paling Disesalkan Petani Ketika Demam Nilam Melanda !!!

Bangkep - Demam NILAM Melanda Indonesia tanpa terkecuali Banggai Kepulauan tanaman fenomenal yang belakangan harga minyak atsiri nya mencapai Rp 2,3 Juta perkilo sekalipun pluktuasi sampai Rp. 600.000 /kg penulis sendiri yg belum pernah turun ke arena Pertanian terdiagnosa juga terinfeksi demam Nilam sehingga setiap hari terpaksa harus kontak berdiskusi dengan petani khususya petani Nilam untuk belajar pengetahuan Pertanian dari Nol sesekali praktek langsung di kebun. 

Dari interaksi dengan sesama petani khususya petani Nilam ada satu hal yang paling dominan disesali oleh para petani, saya awalnya berpikir adalah masalah pluktuasi harga ternyata bukan. 

Kalau masalah harga bahkan menyentuh Rp 500.000/Kg dengan Pengolahanya yang sederhana Nilam telah mengalahkan Nilai Ekonomi  Pertanian Padi di sawah, Harga gabah  Padi di bawah Rp 500 .000/karung sementara untuk menghasilkan 1 Kg Minyak Atsiri Petani cukup menyuling 1,5 sampai 2 Karung Gabah Nilam yang harganya Rp 600 s/d Rp 2,2 Juta.

Menurut JF (Warga) Dalam satu hektare bisa capai 70 Kg - 120 Kg minyak Atsiri dalam 1 Kali Panen sementara setahun 3 kali panen  satu kali masa tanam. 

Ternyata yang paling disesalkan para petani Nilam adalah ketika lahan pertanian mereka sangat terbatas, padahal dengan modal nilam yang terbilang kecil mereka secara potensi bisa mengolah 1-3 hektare namun apa daya mereka hanya punya lahan pekarangan, beberapa hanya seperempat hektare bahkan banyak yang tidak ada lahan pertanian sejengkal pun mereka tinggal menelan ludah menghadapi euforia demam Nilam, salah satu warga dengan inisial IP mengaku terpaksa mengolah lahan orang dengan hasil bagi dua. 

Penulis baru sadar ternyata perbendaharaan lahan Potensial Pertanian di Bangkep sudah sangat terbatas Banyak Petani Status KTP saja, Lahan mereka sangat terbatas, kalu menggarap lahan orang lain dengan bagi hasil tentu statusnya satu tingkat dibawah petani mereka adalah buruh tani. 

Ini tahun 2025 bagaimana pada tahun 2030, 2040 hingga 2050 dan seterusnya, Jumlah penduduk semakin bertambah dan nyatanya Tanah kita tetap dan tidak bertambah sama sekali.

Bagaimana nasip anak cucu kita kedepan ? Sementara tidak semua akan jadi ASN, P3K, Tentara, Polisi, Advokat, Nakes, dll. Pasti lebih banyak yang akan memilih jadi PETANI. Nah, bagaimana jika mereka harus berbagi lahan dengan Exavator, Dynamit dan semacamnya akibat aktivitas eksploitasi lahan oleh korporasi yang bergerak di bidang tambang ???

"JAGA TANAH, JAGA KEHIDUPAN, JAGA MASADEPAN"

Penulis : IDJ
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS