Jakarta - Delapan dekade bukan sekadar hitungan usia. Bagi Korps Brigade Mobil (Brimob), 80 tahun adalah penanda perjalanan panjang sebuah satuan elite yang lahir dari situasi genting revolusi, tumbuh di tengah pergolakan bangsa, dan kini menghadapi tuntutan profesionalisme yang semakin tinggi di era demokrasi modern.
Perayaan HUT Brimob ke-80 pada 14 November 2025 dengan mengusung tema “Brimob Presisi untuk Masyarakat” bukan hanya slogan, tetapi janji. Janji bahwa pasukan yang dulu berjuang di garis tembak Surabaya 1945, menumpas pemberontakan Madiun 1948, DI/TII, PRRI, hingga berbagai konflik horizontal, kini harus tampil dengan wajah baru: disiplin, responsif, humanis dan berorientasi pelayanan publik.
Tema tersebut menegaskan bahwa Brimob bukan lagi sekadar kekuatan tempur cadangan negara, tetapi institusi yang harus mampu menjadi penjaga stabilitas tanpa kehilangan kepekaan sosial. Tantangan itu tidak ringan. Di satu sisi, Brimob harus tangguh menghadapi ancaman keamanan non-tradisional seperti terorisme, sabotase, dan konflik sosial. Di sisi lain, masyarakat mengharapkan kehadiran aparat yang menghormati hak warga negara dan bekerja dengan standar profesional tinggi.
Sejarah panjang Brimob adalah warisan berharga, namun juga cermin yang memantulkan pelajaran penting. Brimob lahir sebagai Tokubetsu Keisatsutai, kemudian menjadi Mobile Brigade (Mobrig) di masa awal republik, dan akhirnya menjadi Brimob pada 1961. Dari masa ke masa, satuan ini berada di persimpangan antara operasi militer dan tugas kepolisian. Dualitas inilah yang membuat Brimob sering berada di garis depan pada situasi tersulit, tetapi sekaligus menuntut tata kelola yang lebih transparan, modern dan akuntabel.
Di usia yang ke-80 ini, Brimob harus mengambil jarak dari pendekatan represif yang kerap melekat pada satuan bersenjata. Kepercayaan publik adalah modal sosial yang tak bisa dibangun hanya dengan senjata dan taktik lapangan. Ia tumbuh dari integritas, pelayanan yang adil dan keberanian bersikap profesional meskipun tekanan situasi di lapangan tidak selalu mudah.
Dalam berbagai operasi bencana, evakuasi, dan aksi kemanusiaan, Brimob membuktikan bahwa karakter “pasukan tempur berhati humanis” bukan hal mustahil. Justru kemampuan inilah yang perlu diperluas. Ketangguhan fisik penting, tetapi empati dan penghormatan pada hak publik jauh lebih menentukan arah institusi di masa depan.
Momen HUT ke-80 ini adalah kesempatan reflektif bagi Brimob. Sudah saatnya satuan elite ini memperkuat transformasi Presisi, mengedepankan kultur profesional, memperbaiki manajemen konflik, dan membuka ruang komunikasi publik yang lebih sehat. Brimob harus menjadi satuan yang dihormati bukan karena ditakuti, tetapi karena dipercaya.
Delapan puluh tahun telah mengukir reputasi panjang. Namun reputasi sejati akan ditentukan oleh langkah ke depan: apakah Brimob mampu menjadi simbol keberanian yang berkeadilan dan penjaga keamanan yang mengutamakan kemanusiaan dalam setiap tugasnya.
Pada titik inilah, HUT Brimob ke-80 bukan sekadar perayaan melainkan panggilan untuk terus berubah, membenahi diri dan hadir sebagai kekuatan negara yang tegas, modern, dan benar-benar untuk masyarakat.

Social Header