Nambo, Banggai – Upaya memperkuat ketahanan pangan daerah tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Dari lahan garapan yang relatif terbatas, Asrun, petani asal Kelurahan Lempek, Kecamatan Nambo, Kabupaten Banggai, membuktikan bahwa budidaya tomat mampu menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus berkontribusi terhadap ketersediaan pangan lokal.
Awalnya, Asrun dikenal sebagai petani palawija yang menanam berbagai komoditas, seperti cabai dan tanaman musiman lainnya. Namun dalam beberapa bulan terakhir, ia mulai memfokuskan diri pada budidaya tomat yang kini berkembang menjadi salah satu sumber penghasilan utama keluarganya.
Dari pantauan awak media di lokasi, Senin (15/12), terlihat tumpukan tomat segar berwarna merah dan hijau tersusun rapi dalam sejumlah wadah plastik, lengkap dengan timbangan di sampingnya. Tomat-tomat tersebut merupakan hasil panen terbaru dari lahan milik Asrun dan siap dipasarkan.
Istri Asrun yang ditemui di lokasi menuturkan bahwa panen kali ini terbilang cukup memuaskan. Dari lahan yang dikelola, mereka mampu menghasilkan tomat dengan total taksiran mencapai puluhan kilogram.
“Alhamdulillah, baru selesai panen. Hasilnya kami jual ke warga sekitar dan juga untuk memenuhi permintaan pasar di Kota Luwuk,” ujarnya.
Tomat hasil panen tersebut saat ini dipasarkan dengan harga relatif terjangkau, yakni Rp6.000 per kilogram. Harga ini dinilai bersahabat bagi konsumen sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi petani lokal.
Asrun mengungkapkan bahwa bibit tomat yang saat ini ditanam masih berada di kisaran 1.500 koker dan akan terus ditingkatkan untuk mendorong produksi yang lebih besar sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.
Ia juga membuka peluang untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila dibutuhkan, khususnya dalam memenuhi permintaan dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kini mulai aktif berjalan di Kabupaten Banggai.
Asrun menambahkan, dari bibit awal yang pernah ditanam, dirinya kini tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh bibit tomat baru. Pasalnya, bibit unggul dipilih langsung dari buah tomat hasil panen, kemudian disemai kembali untuk dijadikan tanaman baru. Pola ini terus dilakukan hingga saat ini sebagai upaya menjaga keberlanjutan produksi.
Dalam konteks ketahanan pangan daerah, keberadaan petani hortikultura lokal seperti Asrun memiliki peran strategis. Produksi tomat dari dalam wilayah dinilai mampu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, menjaga stabilitas harga, serta memastikan ketersediaan bahan pangan segar bagi masyarakat.
Dari gambaran tersebut, keberhasilan Asrun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi petani lain untuk mengembangkan komoditas pasar yang berorientasi pada kebutuhan sehari-hari. Dengan kebutuhan dapur masyarakat yang terus berjalan tanpa henti, komoditas hortikultura memiliki prospek menjanjikan sebagai penggerak ekonomi petani sekaligus penguat ketahanan pangan daerah dalam jangka panjang. (red/tim)

Social Header