Banggai, Sulteng - Dari balik rimbun hutan, lekuk tanah tinggi, dan jalur-jalur kuno yang membentang di pedalaman Banggai, muncul dua istilah etnolingustik yang memegang peranan penting dalam sejarah budaya wilayah ini: Loinang dan Saluan. Keduanya bukan sekadar identitas etnis, melainkan cermin perjalanan panjang manusia yang hidup berdampingan dengan alam, perpindahan dan tantangan zaman.
Dalam tradisi lisan dan kajian bahasa lokal, istilah Loinang dipahami berasal dari unsur kata “Loi” yang terkait dengan gunung atau wilayah tinggi, serta penanda kolektif “-nang”. Secara makna, sebutan ini merujuk pada “orang-orang pegunungan”, yakni komunitas tua yang hidup semi-nomaden di pedalaman Banggai.
Mereka menempati lereng dan lembah, berpindah mengikuti perubahan lingkungan, sumber pangan maupun situasi sosial. Pola kehidupan semi-nomaden ini telah berlangsung jauh sebelum masa kolonial mencatat kawasan ini dalam arsip-arsip mereka.
Awal Mula Kata "Saluan" ? Dari Kebiasaan Berpindah Penduduk Loinang.
Penelusuran sejarah masyarakat pedalaman Banggai menunjukkan bahwa asal usul kata Saluan justru berakar pada kebiasaan hidup semi-nomaden penduduk Loinang sendiri.
Ketika sebuah kelompok Loinang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka selalu melewati satu atau lebih bukit dan gunung. Aktivitas ini dalam bahasa lokal disebut “MOLUAN”, yang berarti melalui atau melewati.
Dari kebiasaan berpindah inilah muncul sebutan “Salua-luan”, yakni orang-orang yang selalu melewati bukit atau gunung saat berpindah tempat. Lama-kelamaan, penyebutan ini mengalami penyederhanaan menjadi “Saluan”.
Dari proses ini, istilah Saluan pada mulanya bukan bermakna “orang sungai” sebagaimana dikaitkan dalam beberapa interpretasi modern tetapi merujuk pada “suku atau kelompok yang selalu berpindah-pindah dengan melewati bukit.” Identitas inilah yang kemudian berkembang menjadi nama besar bagi salah satu kelompok etnik utama di Banggai hingga kini.
Mengapa Mereka Berpindah ? Ini Alasannya !!
Pola perpindahan kelompok Loinang bukan tanpa sebab. Dalam tradisi mereka, ada beberapa kondisi yang menjadi pemicu utama sebuah komunitas berpindah :
1. Peperangan antar kelompok
Konflik antar-permukiman atau antar-kelompok pemukim membuat mereka mencari tempat yang lebih aman.
2. Terserang penyakit tertentu
Ketika wabah atau penyakit menyerang, perpindahan dianggap sebagai upaya memutus rantai penyebaran.
3. Terjadi kematian dalam kelompok atau keluarga
Dalam kepercayaan lama, kematian khususnya kematian yang dianggap “tidak wajar” sering diyakini membawa energi buruk. Hal ini mendorong kelompok untuk pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Karena hampir setiap perpindahan melibatkan perjalanan menanjak, menuruni lembah dan melewati bukit, identitas mereka sebagai “Salua-luan” semakin menguat hingga akhirnya diwariskan sebagai nama etnik "Saluan" .
Hubungan antara Loinang dan Saluan dengan demikian tidak berdiri sendiri. Saluan lahir dari mobilitas Loinang. Loinang adalah pangkal identitas pedalaman sedangkan Saluan adalah hasil evolusi historis dari pola perpindahan leluhur mereka.
Hal ini menjelaskan kesamaan kosakata, ritus, musik tradisional, hingga pola kekerabatan antara komunitas Loinang dan masyarakat Saluan masa kini.
Di tengah perubahan zaman dan modernisasi, upaya pelestarian identitas Loinang dan Saluan terus dilakukan. Lembaga adat, pemerintah daerah dan sejumlah peneliti kebudayaan berusaha merekam ulang sejarah lisan agar warisan ini tidak hilang ditelan waktu.
Jejak MOLUAN, perjalanan penuh tanjakan yang ditempuh para leluhur, kini tidak hanya tersimpan dalam ingatan orang tua kampung, tetapi kembali dihidupkan sebagai pengetahuan budaya yang memperkaya khazanah sejarah Banggai.
Dari Loinang hingga Saluan, dari perpindahan hingga penyebutan, identitas ini adalah kisah tentang bagaimana manusia, bahasa, dan alam saling membentuk satu sama lain. Sebuah warisan yang layak terus dirawat dan diceritakan kepada generasi yang datang. (red)

Social Header