Luwuk, Sulteng - Polemik saling klaim legitimasi Tomundo di wilayah Banggai Bersaudara yakni Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan (Bangkep), dan Banggai Laut (Balut), dinilai berpotensi memicu konflik adat dan perpecahan sesama anak negeri apabila tidak segera disikapi secara bijaksana.
Dinamika ini mencuat menyusul pelaksanaan pengukuhan Burhanudin Amir serta pengangkatan Muh. Fikram Zaman oleh Basalo Sangkap, yang kemudian diikuti dengan pelantikan perangkat adat Kabupaten Banggai oleh Tomundo Irwan Zaman. Rangkaian peristiwa tersebut memicu berbagai reaksi serta protes dari masing-masing kubu pendukung Tomundo.
Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya ketegangan di tingkat masyarakat, khususnya di kalangan pendukung dan komunitas adat di tiga kabupaten Banggai Bersaudara. Sejumlah tokoh masyarakat menilai, apabila situasi ini terus dibiarkan, maka dapat menggerus nilai persaudaraan, persatuan serta kearifan lokal yang selama ini menjadi perekat sosial masyarakat Banggai.
Salah satu Tokoh masyarakat Kabupaten Banggai, Hasanudin, menegaskan bahwa persoalan adat semestinya tidak diseret ke ruang konflik terbuka yang berpotensi memecah persaudaraan.
“Kita ini satu rumpun Banggai Bersaudara. Jangan sampai karena perbedaan pandangan soal Tomundo, kita saling berhadap-hadapan. Jalan terbaik adalah duduk bersama dalam musyawarah adat dengan mengedepankan Babasal,” ujar Hasanudin.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam meredam ketegangan yang mulai berkembang di tengah masyarakat.
“Pemerintah di tiga kabupaten harus hadir sebagai penengah. Kesbangpol dan para bupati perlu memfasilitasi ruang dialog agar persoalan ini tidak melebar dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, berbagai pihak mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah di tiga kabupaten yakni Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) di masing-masing daerah, untuk memfasilitasi dialog dan menjembatani polemik soal saling klaim Tomundo yang tengah terjadi.
Pendekatan yang diharapkan adalah musyawarah adat lintas wilayah dengan mengedepankan nilai Babasal, sebagai konsep pemersatu dalam merajut kembali persaudaraan Banggai, Bangkep dan Balut. Melalui musyawarah tersebut, diharapkan dapat disatukan persepsi bersama guna melahirkan kesepahaman tentang figur Tomundo Banggai Bersaudara dalam bingkai adat yang bermartabat.
Dengan semangat Babasal dan persatuan, diharapkan polemik ini dapat diselesaikan secara damai dan bermartabat, demi menjaga keutuhan serta harmoni masyarakat Banggai Bersaudara.
"Kita kuat karena kita bersatu", tutup Hasanudin. (red)

Social Header