Breaking News

Dari Masa Kecil di Lorong Jati ke Layar Ponsel, Anak Kompleks Kejati Tahun 80-an Rajut Silaturahmi

Kendari - Di sebuah sudut Kota Kendari, tepatnya Lorong Jati, Wua-Wua, pernah tumbuh sekumpulan anak yang menghabiskan masa kecilnya tanpa gawai, tanpa media sosial, dan tanpa hiruk-pikuk dunia digital. 

Tahun 1980-an menjadi saksi kebersamaan mereka bermain, belajar, dan tumbuh bersama di lingkungan Kompleks Kejaksaan Tinggi.

Puluhan tahun berlalu. Waktu membawa mereka menempuh jalan hidup masing-masing, berpencar ke berbagai daerah, bahkan menyeberang pulau. Namun kenangan itu tak pernah benar-benar hilang.

Awal tahun 2026, kenangan lama itu kembali berdenyut. Semuanya bermula dari sebuah kunjungan sederhana. Andy Lely Akip, salah satu anak eks kompleks Kejati, bertamu ke rumah Rahmawati Dahlan, rekan masa kecilnya yang juga tumbuh di Lorong Jati. Percakapan ringan yang diwarnai cerita masa lalu perlahan berubah menjadi ide besar: menyatukan kembali mereka yang pernah tumbuh bersama.

Dari sanalah lahir gagasan membentuk grup WhatsApp bernama “Anak Kejaksaan Eks Kompleks Kejati Lorong Jati”. Andy dipercaya menjadi ketua grup. Ia mulai melacak satu per satu nomor kontak rekan lama—sebuah usaha yang tidak mudah, namun penuh semangat.

“Dulu kami bersatu di kompleks ini. Sekarang kami sudah terpencar,” kata Andy mengenang.

Sebagian kini tinggal di Jawa, Manado, Palu, hingga Luwuk Banggai, sementara lainnya masih menetap di Kendari.

Grup WhatsApp ini bukan sekadar ruang percakapan digital. Ia menjadi jembatan silaturahmi lintas waktu—menghubungkan masa lalu yang penuh kenangan dengan masa kini yang serba cepat. Di dalamnya, cerita lama kembali mengalir: tawa masa kecil, nama-nama yang hampir terlupa, hingga kabar duka tentang rekan yang telah lebih dulu berpulang.

“Dulu belum ada sistem komunikasi seperti sekarang. Sekarang kami bisa saling tanya kabar kapan saja,” ungkap Andy.

Lebih dari itu, grup ini menjadi simbol persatuan. Sebuah pengingat bahwa kebersamaan tak selalu pudar oleh jarak dan waktu. Bahkan, rencana reuni pun mulai diwacanakan—sebuah pertemuan yang diharapkan menjadi momen bersejarah bagi anak-anak Kompleks Kejati tahun 80-an.

Rasa syukur pun mengemuka. Banyak anggota grup kini telah berhasil menapaki kehidupan masing-masing. Mereka berterima kasih atas hadirnya grup ini, yang kembali merekatkan silaturahmi yang sempat terputus.

“Alhamdulillah, grup ini membuat kami bisa saling mengabari dan menjaga tali persaudaraan. Insyaallah, reuni akan menjadi penutup rindu yang lama terpendam,” tutup Andy Lely Akip, Rabu (7/1/2026).

Penulis : Yusnizar Mide
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS