Jakarta - Manusia penjilat pada hakikatnya adalah pribadi yang tidak jujur dan tidak tulus. Sikap tersebut membuatnya sulit dipercaya, karena setiap tindakan dan ucapannya selalu dilandasi motif tertentu: menyenangkan orang lain demi memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Dalam relasi sosial, perilaku semacam ini kerap merusak kepercayaan, sebab pujian dan pengagungan yang disampaikan bukan berangkat dari kejujuran, melainkan dari kepentingan tersembunyi.
Ucapan manusia penjilat cenderung menyesatkan. Ia jarang, bahkan enggan, menyampaikan realitas apa adanya. Penilaiannya tidak objektif karena orientasinya semata-mata untuk menyenangkan pihak tertentu. Akibatnya, informasi yang disampaikan menjadi bias dan berpotensi menutup kebenaran yang sesungguhnya diperlukan untuk memahami suatu keadaan secara utuh.
Oleh karena itu, manusia penjilat identik dengan sikap munafik dan patut diwaspadai bahkan dihindari. Mereka kerap membungkus persoalan seolah-olah semuanya baik-baik saja, seakan tidak ada masalah yang perlu dihadapi. Padahal, dalam kehidupan, yang dibutuhkan justru informasi yang jujur dan objektif agar seseorang mampu mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan, sehingga tidak terjerumus pada kerugian, baik secara material, intelektual, maupun spiritual.
Ciri lain dari manusia penjilat adalah kecenderungannya memuji orang lain secara berlebihan. Sebaliknya, dalam situasi tertentu, ia juga dapat menggambarkan keburukan seseorang secara berlebihan. Semua itu dilakukan demi kepentingan ambisi pribadinya—tidak hanya untuk keuntungan finansial, tetapi juga untuk membangun citra sosial agar tampak lebih unggul dibanding orang lain.
Perilaku semacam ini berbahaya karena dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perangkap lupa diri. Pujian yang berlebihan berpotensi membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain, abai terhadap kekurangan dan kesalahan diri sendiri, hingga akhirnya terjebak dalam sikap jumawa dan merasa paling benar.
Dalam perspektif berbagai ajaran agama, sifat dan sikap manusia penjilat dikategorikan sebagai perilaku tercela. Karena itu, manusia penjilat sebaiknya dijauhi, setidaknya diberi jarak agar tidak terlalu jauh memasuki wilayah paling penting dalam kehidupan pribadi seseorang. Sebab, pada hakikatnya, manusia penjilat adalah “musuh dalam selimut” yang dapat melemahkan dan menggoyahkan keotentikan kepribadian.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa manusia penjilat sejatinya merupakan manifestasi nyata dari sikap dan sifat munafik yang berpotensi merusak tatanan moral, sosial, dan integritas pribadi.
Banten, 14 Januari 2026
Penulis : Jacob Ereste

Social Header