Breaking News

Menulis untuk Menyelamatkan Alam oleh Mereka yang Mengelolanya untuk Diekstraksi

Oleh: Supriadi Lawani
Sulteng - Tulisan sederhana ini mungkin tidak akan dimuat oleh sebagian media lokal di Banggai. Alasannya bisa bermacam-macam. Namun itu bukan soal utama. Yang penting, ia tetap ditulis. Sebab tulisan ini bukan semata tentang media, melainkan tentang menulis, alam dan relasi kuasa di antara keduanya.

Ada sesuatu yang terasa menenangkan, sekaligus menggelitik ketika sebuah perusahaan gas mengajarkan jurnalis cara menyelamatkan alam. Menenangkan, karena akhirnya kita menemukan akar persoalan lingkungan: bukan tambang, bukan ekstraksi, bukan pula model pembangunan, melainkan cara menulis.

Kesan itulah yang muncul dari pelatihan bertajuk “Menulis untuk Menyelamatkan Alam” yang didukung PT Donggi Senoro LNG (DS LNG). Judulnya indah. Hampir puitis. Bahkan terdengar progresif—jika kita bersedia melupakan sejenak dari mana gas itu berasal.

Kita tentu perlu adil. DS LNG, kata sebagian pihak, bukan perusahaan tambang. Ia berada di sektor hilir. Ia hanya mengolah gas. Gas yang entah bagaimana muncul dari perut bumi—barangkali melalui proses alamiah yang disebut izin konsesi.

Namun dalam perspektif ekonomi politik, hilir bukan pihak yang netral. Hilir adalah alasan mengapa hulu terus menggali. Tanpa pengolahan, tanpa pasar, tanpa keuntungan, tak ada urgensi untuk mengebor. Memisahkan hilir dari ekstraksi ibarat memisahkan pisau dari luka dimna secara teknis bisa dibedakan, tetapi secara moral sulit dipisahkan. Di titik inilah paradoks itu berdiri rapi, berseragam CSR, penuh niat baik.

Jurnalisme Lingkungan, Tapi Jangan Terlalu Jauh

Pelatihan ini, tentu saja, berbicara tentang pentingnya jurnalisme lingkungan yang kritis, bertanggung jawab dan berpihak pada masa depan. Semua kata kunci hadir. Satu yang absen yakni struktur.

Tak ada yang keliru dengan mengajarkan storytelling. Tak ada yang salah dengan membangun sensitivitas ekologis. Yang patut dipertanyakan adalah siapa yang mengundang, siapa yang membiayai dan "secara halus"  batas kritik apa yang diharapkan tidak dilewati.

Jurnalis diajak menulis tentang alam, tetapi tidak terlalu lama menatap peta konsesi. Diajak mencintai lingkungan, tetapi jangan sampai cinta itu menjelma menjadi pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dari kerusakannya.
Ini bukan tuduhan konspirasi. Ini sekadar logika relasi kuasa.

Greenwashing yang Naik Kelas
Jika dahulu greenwashing hadir lewat iklan televisi ; daun hijau, anak kecil berlari, dan langit biru, kini ia naik kelas. Ia masuk ke ruang diskusi, pelatihan bahkan ke dalam produksi pengetahuan jurnalistik.

Bukan lagi sekadar, “kami peduli lingkungan”, melainkan: “Kami mendukung jurnalis agar peduli lingkungan.”
Sebuah langkah maju. Atau mungkin hanya langkah ke samping, menjauh dari akar persoalan.

Sebab selama jurnalisme lingkungan diarahkan pada narasi kesadaran individu, perubahan perilaku personal, dan kisah-kisah inspiratif, pertanyaan tentang model pembangunan ekstraktif tetap berada di zona aman.

Etika yang Tidak Hidup di Ruang Hampa

Tidak semua jurnalis yang mengikuti pelatihan semacam ini akan menjadi jinak. Tidak pula semua penyelenggara berniat membungkam kritik. Namun etika jurnalistik tidak hidup di ruang steril. Ia tumbuh di tengah ketergantungan, jejaring relasi, dan rasa sungkan.

Sulit menggigit tangan yang memberi sertifikat, akomodasi, dan panggung intelektual. Bahkan ketika tak ada larangan eksplisit, ada mekanisme sensor yang jauh lebih efektif: rasa tidak enak.
Di situlah ironi itu memuncak. Jurnalis diajari menjadi penjaga alam oleh entitas yang keberlangsungan bisnisnya bertumpu pada eksploitasi alam itu sendiri.

Siapa yang Sebenarnya Diselamatkan ?

Barangkali benar: jurnalis perlu belajar menulis isu lingkungan dengan lebih baik. Namun alam tidak rusak karena jurnalis kurang puitis. Alam rusak karena kebijakan, izin, dan logika ekonomi yang memandang bumi sebagai bahan baku, bukan sebagai ruang hidup.

Jika perusahaan ekstraktif sungguh ingin menyelamatkan alam, pelatihannya sesungguhnya sangat sederhana:
kurangi ekstraksi, buka data, terima kritik dan bersiap digugat.

Selama itu belum dilakukan, pelatihan “menulis untuk menyelamatkan alam” akan tetap terdengar sebagai ironi yang tertata rapi, indah di judul, ambigu dalam praktik dan problematik di fondasinya.
Dan mungkin, justru di sanalah pelajaran terpenting bagi jurnalis lingkungan hari ini: belajar membaca bukan hanya teks tetapi juga siapa yang membiayai narasi.

Penulis adalah petani pisang. "Salam Literasi". 
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS