Bangkep, Sulteng - Komoditas rumput laut pernah menjadi primadona yang mengubah wajah ekonomi masyarakat di Kecamatan Bulagi dan Bulagi Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan. Kisah ini dituturkan Irwanto Diasa, akrab disapa Simbil, yang menyaksikan langsung awal kemunculan hingga pasang surut kejayaan “agar-agar” sejak pertengahan 1990-an.
Sekitar tahun 1995, ketika usianya baru lima tahun, Irwanto kecil melihat langsung bagaimana budidaya rumput laut mulai dikerjakan di Desa Unu, Kecamatan Bulagi (kini masuk wilayah Bulagi Selatan). Meski kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru ASN, mereka ikut menanam rumput laut untuk menambah penghasilan keluarga.
“Sejak SD saya sudah punya rakit sendiri. Sepulang sekolah, saya bermain sambil bekerja di rakit. Kami juga menyisir pantai mengumpulkan sisa-sisa rumput laut untuk dikeringkan dan dijual. Waktu itu kami menyebutnya ‘tiras’,” kenangnya.
Awal Masuk dan Perkembangan
Menurut Irwanto, kemunculan rumput laut awalnya marak di wilayah Sosom dan sekitarnya. Siapa yang pertama kali membawa komoditas tersebut ke Banggai Kepulauan belum teridentifikasi pasti. Namun dari diskusinya dengan seorang pengusaha senior yang dikenal sebagai “Ko Aek”, disebutkan bahwa ia memiliki andil dalam masuknya rumput laut ke daerah ini.
Irwanto mengaku mengalami langsung evolusi metode budidaya, mulai dari metode rakit, kemudian tarikan, hingga metode pirkan yang masih digunakan hingga kini.
Pada masa keemasan itu, hampir seluruh desa di Kecamatan Bulagi dan Bulagi Selatan menggantungkan ekonomi pada rumput laut. Desa Montomisan menjadi episentrum produksi. Banyak petani membeli bibit dari desa tersebut karena dikenal menghasilkan benih unggul dengan pertumbuhan cepat.
“Montomisan unik. Bibit dari mana pun jika dibawa ke sana seolah menjadi lebih unggul,” ujarnya.
Tak hanya berdampak ekonomi, rumput laut juga menyatu dengan nilai adat. Di Montomisan, misalnya, terdapat kearifan lokal yang melarang membawa makanan modern seperti nasi ke lokasi budidaya. Warga hanya diperbolehkan membawa makanan tradisional seperti ubi dan sejenisnya.
Pada masa pemerintahan Bupati Irianto Malinggong dan Wakil Bupati Ehud Salamat, pernah digelar pesta panen raya rumput laut yang diabadikan melalui pembangunan Monumen Rumput Laut yang ditandatangani bupati saat itu.
Bahkan sempat beredar kabar bahwa Banggai Kepulauan menjadi salah satu penghasil rumput laut terbesar di Indonesia Timur, meski produksinya kerap dipasarkan menggunakan merek daerah lain.
Dampak Ekonomi Signifikan
Irwanto menyebut komoditas yang lazim disebut “agar-agar” itu telah mengubah struktur sosial ekonomi masyarakat secara cepat. Rumah panggung dan bambu berangsur menjadi rumah permanen berkeramik.
Dinding rumah dihiasi foto anak-anak yang berhasil meraih gelar sarjana. Ratusan aparatur sipil negara, anggota TNI-Polri, hingga pengusaha lahir dari hasil budidaya rumput laut.
“Istilah waktu itu ‘ceme’ dan selamat tinggal kemiskinan,” katanya.
Penurunan Produktivitas
Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki periode tertentu, yang menurut Irwanto terjadi saat ia telah dewasa : kualitas rumput laut menurun drastis secara tiba-tiba. Penyebabnya belum diketahui pasti hingga kini.
Episentrum produksi yang sebelumnya berada di Montomisan kemudian bergeser ke Desa Komba-komba yang hingga kini masih aktif, meski volume produksi tidak sebesar masa keemasan dulu.
Berbagai spekulasi berkembang terkait penurunan produktivitas, mulai dari dugaan limbah industri di pulau seberang, praktik penangkapan ikan ilegal seperti penggunaan bius, potasium, dan bom, hingga dugaan kejenuhan benih yang memerlukan peremajaan varietas unggul.
Irwanto juga mengingat adanya pemberitaan mengenai program pengembangan rumput laut dengan metode kultur jaringan yang diklaim menghasilkan benih unggul melalui laboratorium. Namun, menurutnya, implementasi program tersebut tidak pernah terdengar lagi.
Bidik Misi atau Aji Mumpung ?
Bagi Irwanto, kemunculan dan meredupnya rumput laut secara cepat menjadi refleksi bahwa komoditas tersebut lebih bersifat “aji mumpung” ketimbang hasil dari perencanaan strategis atau bidik misi ekonomi yang terstruktur.
“Tidak terlihat adanya inisiatif serius pemerintah untuk menjaga keberlanjutan komoditas ini. Seolah hanya menikmati citra positif saat produksi sedang tinggi,” ujarnya.
Ia meyakini Banggai Kepulauan memiliki ratusan potensi sumber daya alam, baik di laut maupun darat, yang dapat mendorong daerah menuju masa keemasan jika dikelola secara serius dan berkelanjutan. Sektor perikanan budidaya, lobster, teripang hingga komoditas darat seperti kakao dan kelapa unggul dinilai masih terbuka luas untuk dikembangkan.
Irwanto pun menutup kisahnya dengan ajakan agar pembangunan ekonomi daerah dilakukan melalui perencanaan matang, kreativitas, dan inovasi.
“Kreatif, inovatif, jangan menyerah, dan jangan lamban. Kita harus benar-benar melakukan bidik misi ekonomi,” tegasnya.
Salam Bidik Misi. Oleh : Irwanto Diasa (Simbil)

Social Header