Luwuk, Banggai - Di balik kehidupan sederhana petani dan nelayan, tersimpan jasa besar yang luar biasa bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Mereka bekerja tanpa sorotan, namun menjadi fondasi utama ketahanan pangan dan ekonomi daerah.
Dalam realitas perjuangan yang tidak ringan itu, KTNA Banggai hadir sebagai salah satu motor penggerak yang terus mendorong keberpihakan nyata, memastikan petani dan nelayan tidak berjalan sendiri menghadapi tantangan produksi, pemasaran hingga persoalan kesejahteraan.
Petani setiap hari bergelut dengan lahan, panas terik matahari, keterbatasan sarana produksi, dan naik-turunnya harga komoditas. Namun mereka tetap menanam, merawat dan memanen dengan kesabaran yang luar biasa.
Dari tangan merekalah pangan hadir di meja makan masyarakat. Perjuangan mereka bukan sekadar rutinitas melainkan pengabdian yang diam-diam menjaga stabilitas hidup banyak orang.
Sementara itu, nelayan pun memikul beban yang tidak kalah berat. Mereka berhadapan dengan cuaca yang tidak menentu, risiko keselamatan, serta fluktuasi hasil tangkapan. Namun dengan semangat yang sama, nelayan tetap melaut demi memenuhi kebutuhan pangan, menggerakkan ekonomi pesisir, dan mempertahankan mata rantai kehidupan di wilayah pantai.
Di tengah kondisi tersebut, Ketua KTNA Banggai Irwanto Kulap, SP menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani serta nelayan.
Komitmen ini bukan sekadar simbol, tetapi menjadi pesan penting bahwa petani dan nelayan harus ditempatkan sebagai prioritas pembangunan daerah bukan sekadar pelengkap dalam agenda kebijakan.
"Ketahanan pangan tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum dan slogan".
Ketahanan pangan lahir dari kerja nyata di lapangan, dari tanah yang digarap dari laut yang dijelajahi, dari keringat yang menetes dan dari keteguhan yang terus dipelihara.
Karena itu, keberpihakan kepada petani dan nelayan harus diwujudkan melalui dukungan yang terukur dan berkelanjutan : pendampingan yang konsisten, penguatan kelembagaan kelompok, akses sarana produksi hingga kebijakan yang melindungi harga dan distribusi hasil.
Lebih dari itu, KTNA Banggai diharapkan terus menjadi jembatan aspirasi, menyuarakan kebutuhan petani dan nelayan secara terbuka, sekaligus memperjuangkan agar program-program peningkatan produksi benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Sebab, petani dan nelayan bukan sekadar penerima kebijakan melainkan aktor utama yang menjaga keberlangsungan hidup masyarakat.
"Semangat petani dan nelayan adalah perwujudan cinta tanah air yang nyata" .
Mereka bukan hanya bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan yang lebih luas: memberi makan banyak orang, menghidupkan ekonomi desa, dan menjaga ketahanan daerah. Dalam kesederhanaan hidup mereka, tersimpan jasa besar yang sering luput dari perhatian.
Karena itu, sudah seharusnya semua pihak memberi penghormatan dan dukungan yang pantas. Petani dan nelayan tidak membutuhkan pujian berlebihan, tetapi membutuhkan keberpihakan yang nyata. Mereka butuh kebijakan yang adil, perhatian yang konsisten serta dukungan yang tidak berhenti pada momen tertentu saja.
Dengan semangat itu, KTNA Banggai dibawah pimpinan Irwanto Kulap, SP., terus bergerak memperkuat langkah perjuangan dan menyalakan harapan.
Sebab, ketika petani dan nelayan diperjuangkan, maka daerah akan semakin kuat. Ketika produksi meningkat dan kesejahteraan terangkat maka ketahanan pangan bukan lagi sekadar impian melainkan kenyataan yang bisa dirasakan bersama.
"Dibalik kehidupan sederhana Petani dan Nelayan, tersimpan jasa besar yang luar biasa. KTNA Banggai komitmen bergerak bersama petani dan nelayan untuk bangkit dan terus berjuang demi mendukung visi dan misi besar pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam mewujudkan ketahanan pangan", tutup Irwanto. (*)
Narahubung : Michael Tendean, SP

Social Header