Breaking News

LUMBI-LUMBIA, EPISENTRUM PARIWISATA WILAYAH SELATAN, BERGERAK SAMBUT ERA DESA WISATA

Buko Selatan, Banggai Kepulauan - (12/2/2026) Membahas pariwisata, Desa Lumbi-Lumbia, Ibukota Kecamatan Buko Selatan,Kabupaten Banggai Kepulauan sering luput dari topik diskusi. Namun, jangan salah, meski nama desa Lumbi-Lumbia jarang menjadi bahan gorengan media, namun desa ini menyimpan sejuta potensi pariwisata interkoneksi yang kompleks yang terbentang dari utara ke selatan, timur dan barat.

Episentrum, ya, Lumbi-Lumbia adalah episentrum pariwisata wilayah selatan.

Meski hanya memiliki beberapa destinasi yang tepat di lokus Lumbi-Lumbia namun desa ini merupakan titik temu awal dan titik temu akhir jika melakukan perjalanan wisata dari Kota Danau di Lemelu dan Alani, Pantai Sapelang, Air Terjun Batualambung, Pantai Papende, Pulau Bertasbih,Danau Oluelo, Air Terjun Leling, Gua Susundeng, Gos Babanang, Spot Mancing, serta Panorama bawah laut yang kebetulan berada di wilayah konservasi terbesar Sulawesi Tengah.

Tidak hanya itu, Lumbi-Lumbia adalah Pusat Pengembangan Seni dan Kebudayaan, baik itu kebudayaan tradisional Seasea maupun kreasi. Nyaris keseluruhan generasi 80-an sampai sekarang di desa Lumbi-Lumbia pernah mengecap dunia sanggar yang dipelopori oleh Maestro Kebudayaan, Bapak Alm. Ranur Sabu, dengan Sanggar Batumeseanya yang melegenda makanya pengunjung tidak perlu kaget kalau mendapati di desa Lumbi-lumbia ratusan masyarakat lintas generasi bisa menggerakan tari kreasi secara spontan tanpa perlu persiapan khusus

Muctar Yeete, Pembina Sanggar Batu Mesea yang juga adalah Kepala Sekolah SMK Buko Selatan, mengatakan bahwa dulu Lumbi-Lumbia ini sempat dipublikasikan sebagai Pintu Masuk Pariwisata Banggai Kepulauan karena memenuhi unsur-unsur yang disyaratkan, seperti adanya akomodasi, pusat kuliner, rumah sakit, pelabuhan, pasar, mini ATM, wisata penunjang, dan juga sebagai titik padat dan ramai cocok untuk pengamatan interaksi sosial masyarakat lokal. 

Mutar Mangalia Kepala Desa Lumbi-Lumbia, mengatakan bahwa di sini ada 4 penginapan besar-besar dan banyak kamar, tapi selalu penuh baik oleh tamu domestik maupun mancanegara, sampai-sampai ada tamu yang terpaksa ditolak pada saat padatnya pengunjung di desa ini. Sampai hari ini, kami terus maraton mempersiapkan infrastruktur penunjang, utamanya yang berhubungan dengan kondusifitas lingkungan dan penanganan sampah, karena sebagai desa yang padat dan ramai, jika tidak segera ditangani, sampah akan jadi bom waktu yang menurunkan simpati pengunjung dan mencemari laut yang merupakan andalan kami  

"Kami Punya Visi besar dan berkelanjutan tentang desa Lumbi-lumbia sebagai Legacy untuk generasi Selanjutnya"Tutup Mutar. (Kabiro/Simbil)
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS