Breaking News

Ketum PRIMA Desak Kapolres Banggai "Tindak Tegas" Oknum Penyamun Berkedok Pers

​Banggai, Sulteng 10/03/2026- – Dunia pers di Kabupaten Banggai, khususnya di wilayah Bualemo, tengah diracuni oleh aroma busuk praktik pemerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang menjual kartu pers demi kepentingan perut sesaat. Fenomena "Wartawan Barteran Kasus" ini kini menjadi sorotan tajam dan memicu kemarahan publik.

​Hermanius Burunaung, sosok vokal yang menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Pimpinan Redaksi Indonesia Maju (PRIMA) sekaligus Pimpinan Redaksi Media Berantastipikornews, mengeluarkan pernyataan "pedas" yang menusuk jantung persoalan. Ia mengutuk keras tindakan intimidasi yang dilakukan oknum yang mengaku wartawan namun berperilaku layaknya penyamun di jalan raya.

​Aksi oknum ini diduga telah sistematis. Dari data yang dihimpun, wilayah Bualemo dan Pagimana menjadi "ladang basah" bagi para oknum pemeras ini. Mereka tidak lagi mencari berita, melainkan mencari mangsa untuk ditekan.

​Kasus pertama menimpa seorang pengecer BBM berinisial (R) asal Pagimana. Layaknya sebuah drama kriminal, korban dihadang (di setop-red) di tengah jalan. Tanpa basa-basi oknum jurnalis tersebut langsung menyodorkan angka "damai" sebesar Rp 5 juta.

​"Bahkan terjadi negosiasi yang memuakkan lewat telepon antara oknum tersebut dengan seseorang yang disebutnya sebagai 'pimpinan'. Setelah tawar-menawar layaknya di pasar, angka itu turun menjadi Rp 3,5 juta. Ini sangat menjijikkan! Ini wartawan yang mencari fakta atau perampok yang mencari 'upeti' ?" tegas Hermanius dengan diksi yang menyayat.

​Tak berhenti di situ, korban berinisial (L), yang juga pengecer BBM, harus merelakan uang sebesar Rp 1,5 juta setelah ditekan dengan permintaan awal Rp 5 juta. Selain itu, seorang pengusaha kayu di wilayah tersebut turut menjadi korban dengan kerugian Rp 4 juta.

​Dengan nada bicara yang menggelegar, Hermanius mengingatkan bahwa jurnalis adalah profesi terhormat yang dilindungi UU Pers No. 40 Tahun 1999 dan diikat oleh Kode Etik Jurnalistik.

​"Profesi kita yang kita cintai ini dicoreng oleh oknum-oknum yang menjadikan kartu pers sebagai topeng saja. Mereka tidak menulis, tidak pernah memeras keringat di lapangan untuk mencari kebenaran, tapi begitu melihat peluang kasus, mereka langsung datang untuk barteran uang. Mereka adalah benalu yang harus dibasmi dari ekosistem pers Indonesia !" cetus Hermanius.

​Ia menambahkan bahwa jurnalis sejati bekerja untuk mengedukasi publik, bukan untuk menakut-nakuti rakyat kecil yang sedang mencari sesuap nasi.

"Jangan jadikan media sebagai alat pemerasan. Hormati profesi ini !" tegas Herman.

​Sebagai pemimpin organisasi para pimpinan redaksi, Hermanius Burunaung secara resmi mendesak Kapolres Banggai untuk segera mengambil tindakan represif. Ia meminta Kapolres memerintahkan Polsek Bualemo melakukan penyelidikan mendalam atas rentetan dugaan pemerasan ini.

​"Saya mendesak Kapolres Banggai untuk segera memerintahkan jajaran Polsek Bualemo menindaklanjuti laporan ini. Jangan biarkan mereka berkeliaran ! Tangkap dan proses secara hukum siapapun yang mengatasnamakan wartawan untuk memeras. Harus ada efek jera yang nyata agar citra pers kembali bersih di mata masyarakat," tegasnya lagi.

​Ia menutup dengan peringatan keras bagi para wartawan "liar".

"Jika kalian ingin kaya dengan cara memeras, lepaskan kartu pers kalian dan jadilah kriminal sekalian. Jangan kotori marwah jurnalisme dengan tangan-tangan kotor kalian !" tutupnya.

Sementara itu, menyikapi pemberitaan media online krimsusinvestigasi.my.id terbitan (9/3/2026), (R) yang disebutkan selaku pimpinan dari wartawan (KN) kepada media ini Selasa (10/3/2026) membantah dengan tegas bahwa Isyu itu tidak benar dan pihaknya merasa dirugikan karena difitnah atas pemberitaan tersebut 

Dan sampai saat ini pihaknya telah menyiapkan langkah hukum guna menuntut balik atas dugaan pencemaran nama baik yang dialamatkan pada rekan dan dirinya.

"Hal itu tidak benar adanya, menurut informasi yang sementara kami dalami, itu cerita di warung kopi yang orang dengar tanpa ada landasan bukti kongkrit", kata R yang dikatakan selaku pimpinan (KN) wartawan di media online PH.

Ia menyayangkan penulisan berita yang tidak berimbang atau tanpa konfirmasi.
R mengaku bahwa saat ini pihak IT dan redaksi media tempat ia bernaung sedang mendalami sekaligus mencari celah yang fatal untuk hal tersebut. Sembari menuding kalau ada aktor dibalik permasalahan yang mencuat tersebut.

"Cuma saya paham siapa aktor sesungguhnya dan saya akan hadapi segala konsekwensi yang ada, demi wartawan saya dan tidak ada kata mundur", tegas R.

Lanjutnya lagi, bahwa pemberitaan tersebut tanpa konfirmasi, mkanya dia (media dimaksud) minta hak jawab, tapi saya sampaikan ke dia mau hak jawab harus lewat surat resmi ke redaksi karena pihaknya tidak menjalankan profesional seorang jurnalis, buktinya tanpa konfirmasi.

"Makanya saya tantang balik media yang buat berita, saya minta lampirkan bukti, kalau tidak kami akan ambil langkah hukum", tandas R. (*)
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS