New York City – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan buka puasa bersama yang digelar oleh New York City Police Department di lingkungan akademi kepolisian setempat pada pertengahan bulan Ramadan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari refleksi Ramadan yang tidak hanya mempererat hubungan antaranggota, tetapi juga menegaskan kuatnya nilai keberagaman di tubuh kepolisian kota metropolitan tersebut. Dalam dokumentasi yang beredar dari siaran langsung tvOne, tampak sejumlah pejabat kepolisian duduk berdampingan dengan para tokoh muslim, mengikuti rangkaian acara yang berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan.
Dalam kesempatan itu, seorang perwakilan tokoh muslim menyampaikan pesan-pesan keagamaan dari atas podium di hadapan para anggota kepolisian yang hadir. Nuansa religius semakin terasa dengan dekorasi bertema Ramadan yang menghiasi lokasi kegiatan.
Menariknya, berdasarkan informasi yang dihimpun, sekitar 30 persen personel polisi lalu lintas di New York merupakan muslim. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi jajaran kepolisian setempat.
Salah satu pejabat kepolisian, Brian O. Sullivan, menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi anggota muslim dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Ia menilai keberagaman menjadi kekuatan penting dalam membangun pelayanan publik yang inklusif.
Dalam pesan singkatnya, ia juga mengungkapkan rasa bangganya dapat bersama-sama melaksanakan buka puasa di institusi tempatnya bekerja. “Ramadan menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan dan saling menghormati di antara seluruh anggota,” ujarnya.
Di sisi lain, New York City dikenal sebagai kota terpadat di Amerika Serikat yang kini berada di bawah kepemimpinan wali kota muda dari kalangan umat Islam, Zohran Mamdani, yang dilantik pada awal tahun 2026.
Kegiatan ini tidak hanya mencerminkan tingginya nilai toleransi di kota terbesar Amerika tersebut, melainkan juga menjadi representasi nilai-nilai religius sebagaimana ajaran Islam yang mengedepankan sikap saling menghormati serta menebar kebaikan di muka bumi.
Momentum ini sekaligus menjadi simbol harmonisasi antarumat beragama di New York, serta menunjukkan bagaimana nilai toleransi dan kebersamaan dapat terwujud dalam institusi penegak hukum di salah satu kota paling multikultural di dunia. (*)

Social Header