Luwuk, Banggai - Keberagaman etnis dan bahasa di Sulawesi Tengah menemukan cerminnya di Kabupaten Banggai. Daerah ini menjadi miniatur kekayaan budaya Sulteng, dengan keberadaan tiga suku besar yang hidup berdampingan serta penggunaan tiga bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Gambaran tersebut menguatkan posisi Kabupaten Banggai sebagai representasi nyata harmoni dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di tengah perbedaan, masyarakat tetap menjaga nilai kebersamaan, menjadikan budaya sebagai perekat sosial yang kokoh.
Hal ini disampaikan Sekretaris Dewan Adat Banggai, Nanie Mariany Lalusu, dalam diskusi nonformal usai mengikuti musyawarah besar (mubes) lembaga adat di Palu beberapa hari sebelumnya. Ia menegaskan bahwa kekayaan etnis dan bahasa di Sulawesi Tengah bukan sekadar identitas, tetapi juga kekuatan yang harus dijaga dan diwariskan.
Khusus di Kabupaten Banggai, terdapat tiga suku dan bahasa utama, yakni Saluan, Balantak, dan Andio, dengan penggunaan Bahasa Saluan, Bahasa Balantak, serta Bahasa Andio. Dari ketiga suku tersebut, populasi didominasi oleh suku Saluan yang hingga kini tetap mempertahankan budaya kekeluargaan yang kuat, sekaligus dikenal terbuka terhadap pengaruh dan interaksi dari dunia luar.
Seiring perkembangan zaman, Kabupaten Banggai juga telah dihuni oleh berbagai suku dan bahasa dari luar daerah. Dinamika ini menjadi hal yang lumrah, sebagaimana terjadi di berbagai wilayah lain di Indonesia, dan justru memperkaya corak sosial budaya masyarakat setempat.
Ketua Dewan Adat Banggai, Syaifudin Muid, menambahkan bahwa keberagaman tersebut harus dijaga melalui penguatan nilai-nilai adat dan kelembagaan adat di setiap wilayah. Menurutnya, peran dewan adat menjadi penting dalam memastikan warisan budaya tetap lestari di tengah perubahan zaman, sekaligus menjadi penuntun dalam menjaga harmoni sosial di masyarakat.
Secara keseluruhan, Sulawesi Tengah memiliki 13 kabupaten dan kota dengan sedikitnya 14 etnis besar yang tersebar di berbagai wilayah. Etnis Kaili menjadi salah satu yang dominan dan tersebar di empat kabupaten. Selain itu, terdapat pula etnis Kulawi, Moutong, Pamona, Mori, Bungku, Touna, Banggai, Balantak, Saluan, Andio, Buol serta Tolitoli.
Keragaman ini melahirkan sedikitnya 14 bahasa daerah yang masih hidup dan digunakan oleh masyarakat.
Sementara itu, wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan dan Kabupaten Banggai Laut didominasi oleh etnis Banggai dengan satu bahasa utama, menunjukkan corak keberagaman yang berbeda namun tetap berada dalam satu kesatuan budaya.
Dalam pandangan dewan adat, menjaga bahasa daerah berarti menjaga jati diri. Di tengah arus globalisasi, tantangan pelestarian budaya semakin nyata. Namun demikian, keberagaman yang dimiliki Sulawesi Tengah, khususnya Banggai, justru menjadi kekuatan dalam memperkokoh persatuan dan memperkaya identitas nasional.
Banggai pun tidak sekadar menjadi bagian dari Sulawesi Tengah, tetapi tampil sebagai wajah kecil dari Indonesia—beragam, hidup, dan tetap satu dalam semangat persatuan. (rin)

Social Header