Breaking News

Ketua Dewan Adat Banggai Sampaikan Filosofi Saluan, Tuai Apresiasi di Musyawarah Adat Sulteng

Palu, Sulteng – Suasana Musyawarah Besar Badan Musyawarah Adat (BMA) Provinsi Sulawesi Tengah berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat kebudayaan, saat para ketua dewan adat dari berbagai kabupaten menampilkan filosofi adat masing-masing dengan bahasa daerahnya.

Dalam forum tersebut, Ketua Dewan Adat Kabupaten Banggai Syaifudin Muid tampil memukau dengan menuturkan filosofi adat Banggai menggunakan bahasa Saluan. 

Penyampaian tersebut menjadi salah satu momen yang menarik perhatian peserta musyawarah.

Dalam kutipannya, ia menyampaikan :
Kami Aiya Lengkati Kabupaten Banggai, bele mami, opat na suku tumpu nu lipu, sanggonyo Suku Banggai, Suku Saluan, Suku Balantak ka’ Suku Andio. Kami mingkali-kalibosian, kami mompadodohi potoutusan, mosaangu i potoutusan, potoutusan mami kakana bobuno sampu-sampumpung. Mian anu tumoka o kalibosi mami, o tindungi mami, madik mahantudak, Madik hengge, imbo-imbo mosaangu i potoutusan.”

Atau dalam bahasa Indonesia berarti :

"Kami berasal dari Kabupaten Banggai, kami memiliki empat suku dari penduduk lokal, bernama suku Banggai, Suku Saluan, Suku Balantak dan Andio. Kami saling menghormati, mempererat persaudaraan, bersatu dalam kekeluargaan, kekeluargaan kami laksana ikatan buah Langsat. Warga pendatang kami kasihi, dilindungi, tidak bertengkar, tidak ribut satu sama lain. Mari bersatu dalam bingkai kekeluargaan"

Filosofi tersebut menggambarkan persatuan empat suku besar di Kabupaten Banggai yakni Banggai, Saluan, Balantak, dan Andio yang hidup dalam semangat kebersamaan, saling menjaga serta menjunjung tinggi nilai-nilai adat sebagai pedoman kehidupan.

Ia menegaskan bahwa nilai “potoutusan” yang diangkat dalam filosofi tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga persatuan, melindungi masyarakat serta menolak segala bentuk perpecahan.

Penyampaian filosofi dalam bahasa daerah itu sontak mendapat sambutan meriah dari peserta musyawarah. Tepuk tangan riuh menggema di ruangan sebagai bentuk apresiasi atas kekuatan pesan budaya yang disampaikan.

“Alhamdulillah, ini menjadi bagian dari upaya kita untuk terus menghidupkan dan memperkuat nilai-nilai kearifan lokal di tengah masyarakat,” ujarnya usai menyampaikan paparan.

Musyawarah Besar BMA Provinsi Sulawesi Tengah ini menjadi ruang strategis bagi para pemangku adat untuk memperkuat eksistensi lembaga adat sekaligus merumuskan langkah bersama dalam menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi. (rin)
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS