Balantak Utara, Banggai (29/4/2026) - Pagi di pesisir Desa Teku bukan sekadar rutinitas alam yang berulang. Ia adalah potret kehidupan yang jujur, tentang kerja keras, kebersamaan dan kesederhanaan yang tetap bertahan di tengah arus perubahan zaman.
Saat mentari perlahan muncul dari ufuk timur, aktivitas nelayan dimulai. Perahu bersandar, hasil tangkapan diturunkan dan kehidupan pun kembali berdenyut.
Pantai Teku bukan hanya ruang geografis tempat nelayan mencari nafkah. Ia adalah ruang sosial yang membentuk nilai dan karakter masyarakatnya. Di atas hamparan kerikil hitam, warga saling berbagi hasil laut, memperlihatkan bahwa esensi kehidupan bukan terletak pada seberapah besar hasil yang diperoleh, melainkan pada keikhlasan untuk berbagi.
Nilai gotong royong yang kian tergerus di banyak tempat, justru masih hidup dan tumbuh di sini. Namun, di balik keindahan dan kearifan lokal tersebut, tersimpan potensi besar yang belum tergarap. Desa Teku dianugerahi bentang alam yang luar biasa: garis pantai yang luas, air laut yang jernih, serta perbukitan hijau yang memagari kawasan.
Ditambah lagi keberadaan lokasi yang bisa dikelola menjadi tujuan wisata seperti Danau Buuton dan Danau Toweer yang mengapit wilayah ini, menjadikan Teku sebagai kawasan dengan potensi wisata bahari dan ekowisata yang sangat menjanjikan.
Sayangnya, hingga kini potensi tersebut masih belum tersentuh secara serius. Minimnya perhatian dan pengelolaan membuat keindahan Pantai Teku seolah hanya dinikmati oleh masyarakat setempat, tanpa memberi dampak ekonomi yang lebih luas.
Padahal, jika dikelola dengan bijak dan berkelanjutan, kawasan ini dapat menjadi sumber kesejahteraan baru tanpa harus mengorbankan nilai-nilai lokal yang telah mengakar kuat.
Di sinilah peran pemerintah dan pemangku kepentingan menjadi penting.
Pengembangan wisata tidak boleh semata berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi harus berpijak pada prinsip keberlanjutan ; menjaga laut, menjaga tanah dan menjaga kerukunan, sebagaimana pesan sederhana yang hidup di tengah masyarakat Teku. Pembangunan yang mengabaikan kearifan lokal justru berpotensi merusak tatanan sosial yang selama ini menjadi kekuatan utama desa.
Suasana menjadi pengingat bahwa wajah asli Indonesia sesungguhnya ada di desa-desa seperti Teku, dimana kehidupan berjalan dalam harmoni antara manusia dan alam. Kesederhanaan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang harus dijaga. Semangat nelayan yang tetap bertahan di tengah keterbatasan adalah simbol ketangguhan yang patut diapresiasi.
Pada akhirnya, Pantai Teku bukan hanya tentang keindahan alam, tetapi tentang nilai kehidupan. Tentang bagaimana masyarakat memaknai rezeki, kebersamaan, dan keberlanjutan. Maka menjaga Teku berarti menjaga lebih dari sekadar wilayah, ia adalah menjaga warisan nilai yang semakin langka.
Karena dari pantai inilah kita belajar, bahwa laut bukan hanya untuk diambil hasilnya, tetapi juga untuk dijaga. Dan dari masyarakat Teku, kita diingatkan bahwa kerukunan adalah kekayaan yang sesungguhnya. (Muhlis Asamin)

Social Header