Nambo, Banggai – Kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal ditunjukkan oleh siswi SMA Negeri 3 Luwuk melalui ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
Dengan mengangkat Tenun Nambo sebagai objek liputan, mereka tidak hanya mengikuti kompetisi, tetapi juga berupaya menghidupkan kembali perhatian terhadap warisan budaya yang kini mulai terhenti.
Observasi lapangan dilakukan di Kelurahan Nambo Bosaa, Kecamatan Nambo, Jumat (10/4/2026), didampingi Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) setempat, Sucipto.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pengumpulan data sekaligus dokumentasi kondisi terkini sentra tenun tradisional tersebut.
Tenun Nambo yang telah ada sejak tahun 1990-an dulunya merupakan pusat kerajinan unggulan di wilayah tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu serta perubahan kepemimpinan, aktivitas produksinya perlahan terhenti hingga kini tidak lagi beroperasi.
“Di Google Maps terlihat masih aktif, namun setelah kami cek langsung di lokasi, ternyata tidak ada aktivitas di dalamnya,” ujar salah satu siswa peserta kegiatan.
Rombongan kemudian diterima oleh pengrajin lokal, Saeria Balahanti, bersama perwakilan pemerintah Kelurahan Nambo Bosaa. Ia menjelaskan bahwa Tenun Nambo sebelumnya berfokus pada produksi kain tenun berbahan benang, bukan pakaian jadi.
Selain itu, juga terdapat batik khas Nambo dengan motif Kardinal Fish dan Burung Maleo yang mencerminkan kekayaan hayati daerah.
Dari sisi harga, terungkap kain tenun dijual sekitar Rp600 ribu per lembar dengan ukuran panjang sekitar 4 meter dan lebar 60 sentimeter, cukup untuk satu pasang pakaian. Sementara itu, batik dibanderol sekitar Rp250 ribu per setelan, tergantung ukuran dan permintaan.
Diketahui, kegiatan ini merupakan bagian dari Lomba karya jurnalistik yang di ikuti oleh Siswi SMA Negeri 3 Luwuk yakni siswi kelas XI, masing-masing Juwita Sari M. Londol dan Celsy Laura Panrelly.
Kepada media ini, Juwita selaku pewawancara menuturkan bahwa pengangkatan tema Tenun Nambo merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mengangkat potensi budaya lokal yang mulai tergerus zaman.
Melalui ajang FLS3N dengan tema “Menumbuhkan Karakter Bangsa melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya,” para siswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian terhadap identitas budaya daerah. Tenun Nambo pun diharapkan dapat kembali mendapat perhatian dan dukungan agar tidak hilang ditelan zaman. (red)

Social Header