Breaking News

Gawat ! Kades Diduga Ucapkan “Silakan Keluar dari Desa Bulu” kepada Warga yang Tolak Pembalakan Hutan Sihi’

Pagimana, Banggai - Suasana pertemuan warga di Desa Bulu, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, mendadak memanas setelah terjadi adu mulut antara Kepala Desa dan salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) inisial Yordan pada Minggu (10/5/2026).

Perdebatan itu terjadi saat pembahasan surat terbuka yang disampaikan tokoh masyarakat Desa Bulu yang berada di luar daerah. Isi surat tersebut berfokus pada imbauan kepada warga agar tidak memberikan izin terhadap aktivitas pembalakan kayu di kawasan hutan Sihi’, yang berada di bagian atas permukiman warga.

Dalam surat itu, tokoh masyarakat menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi dampak lingkungan apabila aktivitas penebangan kayu terus berlangsung di kawasan tersebut.

Kepala Desa Bulu, Frisko, dalam forum tersebut menyampaikan bahwa pengelolaan kayu dinilai memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat desa. Ia juga menyebut pembahasan terkait aktivitas tersebut telah melalui kesepakatan bersama antara pemerintah desa dan BPD.

Namun, pernyataan itu langsung mendapat tanggapan dari salah satu anggota BPD yang hadir. Sebut saja Yordan, selaku Anggota BPD aktif membantah adanya musyawarah resmi sebagaimana yang disampaikan kepala desa.

Menurutnya, tidak pernah ada keputusan bersama ataupun persetujuan BPD terkait rencana pembalakan kayu di kawasan hutan Sihi’.

Perdebatan di dalam forum kemudian semakin memanas setelah kepala desa disebut sempat melontarkan pernyataan kepada warga yang menolak aktivitas penebangan kayu agar “silakan keluar dari Desa Bulu !!”.

Ucapan tersebut sontak memicu reaksi dari sejumlah warga yang hadir dan membuat suasana diskusi menjadi tegang. Pertemuan itu akhirnya tidak menghasilkan keputusan ataupun kesepakatan sebagaimana yang diharapkan masyarakat.

Menurut keterangan salah satu sumber yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, sejumlah warga menyayangkan pernyataan kepala desa tersebut karena dinilai tidak mencerminkan kedewasaan dalam bertutur kata di depan umum, terlebih dalam forum yang melibatkan masyarakat.

“Warga hanya ingin menyampaikan kekhawatiran soal dampak lingkungan. Jadi seharusnya bisa dibahas dengan kepala dingin,” ujar sumber tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Bulu belum memberikan keterangan resmi lebih lanjut terkait polemik tersebut. (red)
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS