Breaking News

May Day di Sulteng Tanpa Gubernur, Aktivis : Buruh Berteriak, Pemerintah Pilih Seremoni !!

Palu, Sulteng - Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei di Sulawesi Tengah diwarnai gelombang aksi dari mahasiswa, serikat buruh, dan organisasi masyarakat sipil. Massa turun ke jalan membawa sejumlah tuntutan, mulai dari perbaikan upah, penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing, hingga penguatan perlindungan keselamatan kerja.

Namun, di tengah aksi tersebut, Gubernur Sulawesi Tengah tidak hadir menemui massa. Dua hari kemudian, pada 3 Mei, pemerintah provinsi justru menggelar kegiatan seremonial yang diisi agenda formal dan hiburan, termasuk pembagian doorprize. Kontras ini memicu kritik keras dari kalangan aktivis.

Firmansyah Lapi, perwakilan massa aksi, menilai ketidakhadiran gubernur bukan sekadar persoalan jadwal, melainkan mencerminkan sikap politik pemerintah daerah.

“May Day tanpa gubernur adalah ironi. Saat buruh berteriak menuntut keadilan, pemerintah justru memilih seremoni. Ini bukan sekadar agenda, ini sikap politik,” tegas Firmansyah.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan pemerintah lebih memilih ruang yang aman dari kritik ketimbang berdialog langsung dengan kelompok buruh dan masyarakat sipil. Ia juga menilai pemerintah gagal memahami esensi May Day sebagai momentum perjuangan kelas pekerja.

Kritik itu semakin menguat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keselamatan kerja, khususnya di sektor industri seperti pertambangan dan proyek-proyek besar di Sulawesi Tengah. Sejumlah kasus kecelakaan kerja yang merenggut korban jiwa disebut sebagai bukti lemahnya pengawasan ketenagakerjaan.

“Di tengah jatuhnya korban akibat kecelakaan kerja, pemerintah justru sibuk membangun citra. Nyawa buruh tidak bisa diganti dengan hiburan atau seremoni,” ujarnya.

Massa aksi pun mempertanyakan relevansi kegiatan seremonial di tengah berbagai persoalan mendasar yang dihadapi buruh.

“Buruh tidak butuh panggung hiburan. Buruh butuh keadilan dan perlindungan yang nyata,” tambah Firmansyah.

Sebagai bentuk protes, kelompok massa menyatakan mosi tidak percaya terhadap Gubernur Sulawesi Tengah. Mereka juga mendesak agar gubernur segera membuka ruang dialog langsung tanpa perwakilan, guna membahas tuntutan buruh secara terbuka.

Aksi May Day tahun ini kembali menegaskan jarak antara aspirasi buruh dan respons pemerintah. Bagi para pekerja dan aktivis, May Day bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan ruang perjuangan untuk menuntut keadilan sosial dan perlindungan yang lebih kuat dari negara.

Narahubung : Firmansyah Lapi
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS