Breaking News

‎Tetes Air Mata di Balik Baret Merah : Dari Lapangan Takraw SMANOR TADULAKO PALU, Anak Sederhana asal Tunggaling, Peling Tengah Menuju Puncak Komando

‎​Bandung, Jawa Barat – Suasana di Lapangan Pusdiklatpassus Batujajar siang itu terasa lebih dari sekadar upacara pelantikan. Di antara deru angin dan barisan prajurit yang membatu, ada seorang pemuda yang dadanya bergemuruh lebih kencang dari siapapun. Jemri S., putra kebanggaan Desa Tunggaling, kini tak lagi mengenakan jersey atlet. Di kepalanya, telah tersemat Baret Merah sebuah simbol kasta tertinggi prajurit angkatan darat.
‎​ Dari Atlet takraw Menjadi Prajurit :
‎​Sebelum tangan Jemri menggenggam senjata, tangan itu telah lebih dulu akrab dengan kasar dan lenturnya bola takraw. Sebagai alumni SMA Olahraga Tadulako Palu, Jemri bukanlah orang asing bagi keringat dan cedera. Namun, jika dulu ia melompat di udara untuk mencetak angka bagi Sulawesi Tengah, kini ia melompat dari pesawat untuk menjaga kedaulatan NKRI.
‎​Transisi dari seorang atlet takraw menjadi prajurit Komando bukanlah perkara mudah. Namun, kelincahan kakinya di lapangan hijau dulu, ia bawa ke medan latihan hutan rimba dan rawa laut yang mematikan.
‎​"Ibu, Anak Petanimu Sudah Menjadi Macan Negara"
‎​Bagi Jemri, pendidikan Kopassus yang terkenal sebagai "neraka" di bumi bukan sekadar ujian fisik. Itu adalah perjalanan penebusan janji. Sebagai anak seorang petani di Tunggaling, ia tahu betul rasa lelah ayahnya yang mencangkul di bawah terik matahari, dan doa-doa ibunya yang tak putus di setiap sujud.
‎​"Setiap kali kaki saya terasa patah saat long march, setiap kali napas saya hampir habis di dalam air, saya tidak ingat rasa sakitnya. Saya hanya ingat wajah Ibu yang menunggu di depan pintu gubuk kami," bisik Jemri, matanya berkaca-kaca menahan haru di balik seragam lorengnya.
‎​Ia membuktikan bahwa garis kemiskinan di pelosok desa bukanlah garis mati. Baginya, kemiskinan justru menjadi "bahan bakar" yang membuatnya berlari lebih cepat dari mereka yang memiliki segalanya.
‎​Transformasi Sang Rajawali Tunggaling
‎​ Jemri adalah sebuah anomali yang indah. Di tengah keraguan dunia luar terhadap anak-anak dari latar belakang ekonomi lemah, ia berdiri tegap sebagai bukti nyata bahwa Baret Merah tidak memilih kasta, ia memilih mental baja.
‎​Kisah Jemri S. menitipkan pesan mendalam bagi setiap pemuda di pelosok negeri kalau ​Identitas Bukan Hambatan untuk Menjadi anak petani atau alumni sekolah olahraga daerah bukan alasan untuk berhenti bermimpi besar.
‎​Disiplin Atlet adalah Modal untuk Ketangguhan mental yang ditempa di lapangan takraw dengan fondasi yang membuatnya mampu bertahan di pendidikan militer tersulit di Indonesia.
‎​Restu TUHAN yang berangkat dari doa sang ayah (edy) dan ibu (sara siduan) adalah jawaban Bahwa setinggi apa pun pangkat yang diraih, semua itu bermuara pada air mata syukur seorang ayah dan ibu di desa kecil bernama Tunggaling.
‎​Selamat bertugas, Prajurit Komando Jemri S. Dahulu engkau membela kehormatan daerah di lapangan olahraga, kini pundakmu memikul kehormatan bangsa di medan laga. "‎​KOMANDO !"

Narahubung : Zein
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS