Banggai, Sulteng - Sebuah momen sederhana namun sarat makna terekam di salah satu warung kopi di Kota Luwuk. Seorang anak perempuan berjilbab merah tampak menawarkan kue dagangannya kepada para pengunjung warung. Dengan penuh percaya diri dan senyum tulus khas anak-anak, ia berjalan dari meja ke meja mencari pembeli.
Momen tersebut didokumentasikan oleh warga yang kebetulan berada di warung kopi yang sama, Selasa (16/6/2026). Dalam dokumentasi itu, tampak politisi senior Kabupaten Banggai, Irwanto Kulap, SP menyambut kehadiran sang anak dengan ramah. Percakapan singkat berlangsung hangat sebelum Irwanto membeli jajanan yang ditawarkan.
Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terlihat biasa. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan kemanusiaan yang kuat tentang empati, kepedulian sosial dan penghargaan terhadap usaha kecil.
Diketahui, Irwanto Kulap, SP merupakan anggota DPRD Kabupaten Banggai yang telah menjabat selama empat periode dari Partai Golkar sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) II Banggai. Selain itu, ia juga aktif mengemban amanah sebagai Ketua Komisi II DPRD Banggai, yang membidangi berbagai urusan strategis terkait perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai politisi yang berasal dari akar rumput dan berlatar belakang petani, Irwanto Kulap dikenal luas dekat dengan masyarakat. Kiprahnya di sektor pertanian juga terlihat dari perannya sebagai Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), organisasi yang menjadi wadah penguatan kapasitas petani dan nelayan.
Kedekatan dengan warga tanpa sekat menjadi salah satu karakter yang sering disematkan masyarakat kepadanya. Dalam berbagai kesempatan, Irwanto kerap terlihat berbaur dengan warga di ruang-ruang publik, mulai dari kegiatan pertanian hingga warung kopi tempat masyarakat berkumpul dan berdiskusi.
Sementara itu, kehadiran anak penjual kue dalam momen tersebut menghadirkan refleksi sosial tersendiri. Di balik senyum polosnya, tersimpan semangat membantu keluarga dan perjuangan hidup yang patut dihargai. Anak-anak pada dasarnya memiliki hak untuk belajar, bermain dan meraih cita-cita. Namun dalam realitas kehidupan, tidak sedikit yang turut membantu ekonomi keluarga melalui cara-cara yang terhormat.
Membeli dagangan seorang anak mungkin tampak sebagai tindakan kecil. Namun lebih dari sekadar transaksi ekonomi, hal itu dapat menjadi bentuk dukungan moral dan penghargaan terhadap semangat kerja keras serta harapan masa depan generasi muda.
Peristiwa sederhana di sebuah warung kopi di Kota Luwuk ini menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan sering kali hadir dalam ruang-ruang kecil kehidupan sehari-hari. Sebab ukuran kemajuan suatu daerah bukan hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kuatnya rasa empati dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Senyum sumringah anak penjual kue itu mungkin hanya berlangsung sesaat. Namun makna yang ditinggalkannya mengingatkan bahwa kepedulian tidak selalu lahir dari tindakan besar—kadang cukup melalui sapaan hangat, perhatian tulus, dan kesediaan membantu sesama. (red)

Social Header