Luwuk, Banggai, Sulteng - Setiap tanggal 12 Februari, masyarakat Pagimana, Kabupaten Banggai memperingati hari yang tidak ada di kalender nasional tapi hidup di hati mereka : Hari Patriot.
Hari itu adalah hari bersejarah ketika rakyat Banggai yang berpusat di Pagimana menyerbu dan merebut markas Tentara Belanda di Luwuk. Markas Tentara Belanda saat itu adalah lokasi yang kini menjadi Makodim 1308 Luwuk Banggai.
Menurut penuturan ahli sejarah lokal dan cerita lisan tetua Pagimana yang diwariskan turun-temurun, peristiwa itu terjadi pada 12 Februari 1942.
Saat itu Belanda sedang dalam keadaan panik dan lemah. Jepang baru masuk Manado dan Poso. Namun rakyat tidak menunggu Jepang.
Gerakan ini terinspirasi oleh gerakan para pemuda di Gorontalo, sehingga sejumlah tokoh penting di Pagimana saat itu melakukan konsolidasi dan berkoordinasi dengan para tetua adat serta tokoh masyarakat lokal hingga memperoleh dukungan dari semua kalangan masyarakat.
Dengan parang, tombak, bambu runcing dan semangat yang menyala, rakyat gabungan dari Tokoh Asal Luar Pagimana yang berbaur dengan penduduk lokal dan sebagian dari dataran Balantak berkumpul di Pagimana lalu bergerak bersama menyerbu Luwuk.
Alhasil, serbuan itu berhasil. Markas Belanda di Luwuk berhasil direbut rakyat. Belanda kabur dari Luwuk. Untuk beberapa hari, Luwuk dan Banggai benar-benar dikuasai untuk sementara waktu sebelum bala bantuan tentara Belanda tiba.
Seperti kata tetua di Pagimana : "Kami tidak dibebaskan Jepang. Kami bebaskan diri kami sendiri. Kami yang serbu Belanda di Luwuk."
Peristiwa 12 Februari 1942 inilah yang menjadi kebanggaan orang Pagimana. Ini adalah bukti bahwa jauh sebelum proklamasi 1945, rakyat Banggai sudah berani mengusir penjajah dengan tangan sendiri.
Sebagai penghormatan atas keberanian itu, lapangan kebanggaan masyarakat Pagimana dinamai Lapangan Gelora Pemuda 12 Februari.
Setiap tahun di lapangan itulah Hari Patriot diperingati. Upacara digelar, doa dipanjatkan untuk para patriot yang gugur dalam penyerbuan markas Belanda di Luwuk tahun 1942.
Ironisnya, kisah heroik 12 Februari 1942 ini hampir tidak pernah masuk buku sejarah nasional. Ia hanya hidup dalam ingatan tetua di Pagimana dan Luwuk.
Padahal jika di Gorontalo ada 23 Januari 1942 sebagai Hari Patriotik, maka di Banggai ada 12 Februari 1942 sebagai Hari Patriot.
Sudah benar, jika Pemerintah Kabupaten Banggai menetapkan secara resmi 12 Februari sebagai Hari Patriot. Agar generasi muda tahu, kemerdekaan di tanah Banggai tidak diberi, tapi direbut sendiri oleh kakek moyang mereka dengan menyerbu markas Belanda di Luwuk.
"Monsuani Tano', Monsuani Sejarah. Hidup Patriot Pagimana !"
Penulis : Tambrin Kubo - Mitrapers

Social Header