Banggai, Sulteng - Forum Saluan Indonesia hadir sebagai wadah pemersatu masyarakat Saluan yang berorientasi pada pelestarian budaya, penguatan persaudaraan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kesejahteraan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua Umum Forum Saluan Indonesia, Syaifudin Muid, S.H., menjelaskan bahwa semangat pembentukan organisasi tersebut terangkum dalam filosofi “Padodohi na Poto’utusan” (Perkuat persaudaraan), yang dimaknai sebagai bersatunya persaudaraan sedarah, satu keturunan dan satu asal-usul.
Filosofi tersebut menjadi landasan bagi Forum Saluan Indonesia dalam membangun kebersamaan masyarakat Saluan, baik yang berada di tanah kelahiran maupun di berbagai daerah perantauan.
Menurut pemaknaan yang diusung organisasi, persaudaraan bukan sekadar ikatan karena kesamaan asal-usul, melainkan juga tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan leluhur, memperkuat solidaritas, dan membangun masa depan generasi Saluan.
Semangat itu kemudian dituangkan dalam visi organisasi, yakni menjadi wadah pemersatu masyarakat Saluan yang berbudaya, berdaya saing, dan sejahtera untuk Indonesia.
Mengenal Forum Saluan Indonesia
Forum Saluan Indonesia merupakan wadah yang diarahkan untuk menghimpun masyarakat Saluan dalam semangat persaudaraan, pelestarian adat, pengembangan potensi sumber daya manusia, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kehadirannya diharapkan membuka ruang komunikasi dan kerja sama bagi masyarakat Saluan dari berbagai latar belakang, termasuk tokoh adat, generasi muda, perempuan, pelaku usaha, petani, nelayan, serta masyarakat Saluan yang tinggal di luar daerah.
Melalui wadah ini, nilai-nilai kebudayaan diharapkan tidak hanya diwariskan melalui cerita dan tradisi keluarga, tetapi juga diperkenalkan secara lebih terstruktur kepada generasi muda.
Forum Saluan Indonesia juga membawa gagasan bahwa persatuan perlu diwujudkan melalui kegiatan nyata, seperti edukasi kebudayaan, pengembangan kapasitas generasi muda, penguatan jejaring masyarakat, serta program sosial dan ekonomi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, organisasi ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk mempererat hubungan antarmasyarakat Saluan sekaligus mendorong kontribusi mereka bagi pembangunan daerah dan bangsa.
Filosofi Logo sebagai Identitas dan Arah Perjuangan
Salah satu cara Forum Saluan Indonesia memperkenalkan jati dirinya adalah melalui logo organisasi yang memuat sejumlah simbol adat, alam, kesejahteraan, dan kebangsaan.
Logo tersebut terdiri atas Sangko hitam berlis merah yang ditempatkan di bagian tengah, dua senjata adat bersilang, hamparan sawah dan gunung, kapas dan padi, serta empat tangan yang saling menggenggam pita Merah Putih.
Setiap elemen memiliki makna yang berkaitan dengan visi dan arah perjuangan organisasi. Logo itu tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas, tetapi juga menjadi media edukasi untuk menjelaskan nilai-nilai yang ingin dipertahankan dan dikembangkan oleh masyarakat Saluan.
Sangko : Menjaga Marwah dan Identitas Budaya
Sangko yang berada di bagian tengah logo dimaknai sebagai simbol kehormatan, kebijaksanaan, dan identitas adat masyarakat Saluan.
Penempatannya di bagian utama logo menegaskan pentingnya kebudayaan sebagai fondasi kehidupan masyarakat. Kemajuan dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan teknologi diharapkan tetap berjalan seiring dengan pemeliharaan nilai-nilai adat.
Atas dasar itu, pelestarian bahasa Saluan, seni tari tradisional, pemahaman mengenai penggunaan Sangko sesuai ketentuan adat, serta pengembangan rumah adat sebagai pusat pembelajaran menjadi bagian dari gagasan program organisasi.
Ketua Umum Forum Saluan Indonesia, Syaifudin Muid, menempatkan pelestarian kebudayaan sebagai salah satu perhatian penting dalam memperkuat identitas masyarakat Saluan.
Warisan leluhur perlu dikenalkan kepada generasi muda agar mereka tidak hanya mengetahui asal-usulnya, tetapi juga memahami nilai dan tanggung jawab yang menyertainya.
Pelestarian budaya dengan demikian bukan sekadar upaya mempertahankan tradisi masa lalu, melainkan juga investasi sosial untuk membangun karakter generasi mendatang.
Senjata Adat : Keberanian, Keteguhan dan Tanggung Jawab
Dua senjata adat yang bersilang di belakang Sangko dimaknai sebagai simbol keberanian, kesiapsiagaan, dan keteguhan dalam menjaga kehormatan serta kepentingan masyarakat.
Dalam filosofi organisasi, simbol tersebut tidak diarahkan pada kekerasan, tetapi pada semangat untuk bertindak dengan tanggung jawab, menjaga persaudaraan, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui cara-cara yang damai serta sesuai ketentuan yang berlaku.
Makna ini juga mengingatkan bahwa sebuah organisasi masyarakat perlu memiliki keberanian untuk menyampaikan aspirasi, membangun komunikasi, dan ikut mencari solusi terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Keberanian harus disertai kebijaksanaan, sedangkan keteguhan harus berjalan bersama sikap menghormati perbedaan.
Sawah, Gunung, Kapas dan Padi : Mendorong Kesejahteraan
Hamparan sawah dan gunung dalam logo menggambarkan hubungan masyarakat dengan alam serta potensi sumber daya yang menopang kehidupan. Sementara itu, kapas dan padi merepresentasikan harapan akan terpenuhinya kebutuhan dasar dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Simbol-simbol tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan harus memperhatikan keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam, kelestarian lingkungan, dan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.
Forum Saluan Indonesia mengusung gagasan penguatan ekonomi rakyat melalui pemberdayaan petani, nelayan, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat lainnya.
Pengembangan koperasi menjadi salah satu gagasan yang dapat diarahkan untuk memperluas kerja sama ekonomi, sementara pendidikan dan peningkatan keterampilan generasi muda diharapkan membuka kesempatan yang lebih luas dalam berbagai bidang pekerjaan dan profesi.
Melalui gagasan tersebut, masyarakat Saluan diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki dan mengambil bagian secara aktif dalam pembangunan.
Empat Tangan : Persatuan dalam Bingkai NKRI
Salah satu unsur penting dalam logo versi nasional Forum Saluan Indonesia adalah empat tangan yang saling menggenggam pita Merah Putih.
Dalam filosofi organisasi, empat tangan tersebut dimaknai sebagai persatuan empat pilar masyarakat Saluan.
Pilar pertama adalah Dewan Adat dan para tetua sebagai penjaga nilai serta marwah kebudayaan.
Pilar kedua adalah pemerintah dan generasi muda sebagai unsur yang berperan dalam pembangunan dan penyiapan masa depan.
Pilar ketiga mencakup pengusaha, petani, dan nelayan sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Adapun pilar keempat merepresentasikan perempuan Saluan dan masyarakat perantauan yang berperan dalam menjaga keluarga, memperkuat solidaritas serta menghubungkan masyarakat di berbagai daerah.
Keempat pilar itu digambarkan saling menggenggam dan menguatkan. Tidak ada satu unsur yang berdiri sendiri, karena persatuan membutuhkan keterlibatan dan kontribusi berbagai kelompok masyarakat.
Pita Merah Putih yang mengikatnya menegaskan bahwa persaudaraan Saluan berada dalam bingkai kebangsaan dan kesetiaan terhadap NKRI.
Filosofi tersebut sekaligus menjelaskan bahwa Forum Saluan Indonesia tidak dibentuk untuk menciptakan sekat antarsuku. Sebaliknya, organisasi ini diharapkan menjadi ruang untuk merawat identitas budaya sekaligus memperkuat hubungan dengan masyarakat Indonesia yang lebih luas.
Pesannya sederhana : masyarakat Saluan dapat mempertahankan jati diri kebudayaannya tanpa kehilangan semangat kebangsaan.
AD/ART Dirampungkan, Deklarasi Nasional Dipersiapkan
Dalam perkembangan organisasi, Syaifudin Muid menyampaikan bahwa Forum Saluan Indonesia telah merampungkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta mematangkan logo versi nasional dengan filosofi empat tangan.
Deklarasi nasional masih dipersiapkan, sementara proses administrasi di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) disebut masih berjalan.
Penyusunan AD/ART menjadi bagian dari penataan kelembagaan agar organisasi memiliki pedoman yang jelas dalam menjalankan tujuan, mengatur struktur, dan melaksanakan program kerja.
Sementara itu, persiapan deklarasi diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan Forum Saluan Indonesia secara lebih luas kepada masyarakat serta menjelaskan arah perjuangannya.
Proses tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkuat komunikasi dan membangun partisipasi masyarakat Saluan dari berbagai wilayah.
Merawat Persaudaraan, Membangun Masa Depan
Filosofi “Padodohi na Poto’utusan” menjadi pesan utama yang hendak dibawa Forum Saluan Indonesia: menjaga persaudaraan, melestarikan adat istiadat, memperkuat kapasitas masyarakat, dan mendorong kesejahteraan dalam bingkai Indonesia.
Organisasi ini diharapkan tidak berhenti pada nama, logo, atau deklarasi, tetapi mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pelestarian budaya perlu diwujudkan melalui pendidikan dan pewarisan tradisi. Persatuan harus diperkuat melalui komunikasi dan kerja sama. Pemberdayaan masyarakat perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas serta kesejahteraan, sementara semangat kebangsaan harus tercermin dalam keterbukaan dan penghormatan terhadap keberagaman.
Pada akhirnya, keberadaan Forum Saluan Indonesia membawa harapan agar masyarakat Saluan tetap mengenal akar budayanya, mampu menghadapi perubahan zaman, dan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk berkontribusi bagi daerah maupun bangsa.
Dari tanah Banggai, persaudaraan Saluan diharapkan terus tumbuh melampaui batas wilayah dan generasi.
Padodohi na Poto’utusan : Bersatu dalam Adat, Berdaya dalam Persatuan, Bertumbuh untuk Indonesia.
Sumber : Syaifudin Muid, S.H., Ketua Umum Forum Saluan Indonesia.
Penulis : Tambrin Kubo, Kord. Bidang Informasi dan Komunikasi Dewan Adat Banggai

Social Header