Luwuk, Banggai - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banggai menggelar Festival Literasi pada 2026, yang menurut keterangan pihak dinas menjadi penyelenggaraan pertama sejak kantor tersebut berdiri.
Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Perpustakaan Banggai, Kamis (22/10/2026), ini menjadi ruang edukasi publik untuk mendorong budaya membaca, meningkatkan literasi digital serta mengajak masyarakat lebih bijak memanfaatkan media sosial dan kecerdasan buatan (AI).
Kadis Perpustakaan dan Keaesipan Banggai melalui Kabid Layanan Alih Media dan Otomasi Perpustakaan Hj. Mursyida Muslich, SKM, M.Kes yang akrab disapa Ibu Chida, saat ditanya disela-sela kegiatan menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Bupati Banggai Amirudin Tamoreka dan Wakil Bupati Furqanuddin Masulili atas dukungan serta motivasi yang diberikan sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana.
Menurut Chida, dukungan pimpinan daerah menjadi bagian penting dalam mendorong terselenggaranya kegiatan yang berorientasi pada peningkatan budaya membaca dan pengembangan literasi masyarakat di Kabupaten Banggai.
Ia juga menyinggung pembangunan gedung Kantor Dinas Perpustakaan Banggai yang didirikan pada era kepemimpinan Bupati Amirudin Tamoreka. Selain pembangunan fasilitas tersebut, pelaksanaan Festival Literasi pada 2026 menjadi catatan tersendiri, menurut keterangannya, kegiatan serupa baru pertama kali digelar sejak kantor dinas tersebut berdiri.
Chida berharap dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan perpustakaan dan kegiatan literasi dapat terus berlanjut, sehingga perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyediaan bahan bacaan tetapi juga ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan pengetahuan, kreativitas dan kemampuan berpikir kritis.
Diskominfo Dorong Generasi Muda Kembangkan Literasi
Talk Show pada hari ke-3 Festival Literasi tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Banggai serta Ketua DPC Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Banggai, Abdul Muis Tunekon. Kegiatan dipandu oleh Muhtar Kantu dan diikuti peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga masyarakat di Kota Luwuk.
Dalam pemaparannya, Sekretaris Diskominfo Banggai yang mewakili Kepala Diskominfo menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan atas penyelenggaraan festival tersebut. Ia mengajak generasi muda membudayakan membaca sebagai upaya memperkaya wawasan dan meningkatkan kemampuan literasi.
Pihaknya juga menyatakan komitmen untuk membantu generasi muda mengembangkan kemampuan menulis melalui dukungan penyediaan website bagi mereka yang ingin menyalurkan bakat dan karya tulis, khususnya para peserta didik.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk memublikasikan gagasan, mengembangkan kreativitas, serta memanfaatkan teknologi secara positif dalam kegiatan literasi.
Ketua PJS Banggai Ingatkan Risiko Hukum Bermedia Sosial
Sementara itu, Ketua DPC PJS Banggai, Abdul Muis Tunekon, membawakan materi bertema “Bijak Bermedsos, Teliti Sebelum Posting”. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyebarkan informasi melalui media sosial tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenaran dan sumbernya.
Menurut Muis, unggahan berupa tulisan, foto maupun informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan dampak negatif ketika dikonsumsi publik. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum membagikannya agar tidak menimbulkan persoalan, termasuk risiko hukum yang berkaitan dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Ia menekankan bahwa kehati-hatian dalam bermedia sosial bukan hanya menyangkut kebenaran informasi, tetapi juga tanggung jawab atas konten yang disebarluaskan.
Muis turut mengingatkan generasi muda agar mewaspadai dampak negatif media sosial terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk pengaruhnya terhadap pola pergaulan dan perilaku.
Ia mengajak seluruh peserta menjadikan sikap kritis dan kehati-hatian sebagai kebiasaan sebelum mengunggah maupun meneruskan informasi kepada orang lain.
Mahasiswa Soroti Menurunnya Minat Baca dan Ketergantungan AI
Diskusi berlangsung interaktif dengan beragam pandangan dari peserta. Caca, mahasiswa Universitas Tompotika Luwuk, menyoroti kecenderungan menurunnya minat baca masyarakat di tengah kemudahan memperoleh informasi melalui perangkat digital.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap ketergantungan pada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), yang apabila digunakan tanpa sikap kritis dapat mengurangi kebiasaan seseorang untuk berpikir dan menganalisis secara mandiri.
Berdasarkan pengalamannya dalam mendorong budaya membaca di lingkungan masyarakat, Caca menilai bahwa membangun kebiasaan membaca tidak harus dimulai dengan memiliki banyak buku.
Menurutnya, satu buku yang benar-benar dibaca dan dipahami jauh lebih bermanfaat dibandingkan banyak buku yang hanya tersimpan tanpa pernah dibaca.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa penguatan budaya literasi tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan bahan bacaan, tetapi juga kemauan untuk membaca, memahami, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Peserta lainnya, Runi Pamolas, turut menyoroti dampak penggunaan media sosial yang dapat berujung pada persoalan hukum. Pertanyaan tersebut memperkuat pembahasan mengenai pentingnya memahami tanggung jawab pengguna dalam menyebarkan informasi di ruang digital.
Pelaku UMKM Tawarkan Pelatihan Batik Saluan Gratis
Dukungan terhadap pengembangan literasi dan kreativitas juga disampaikan Siti Maisaro, perwakilan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain mengapresiasi upaya peningkatan budaya membaca, ia menyatakan kesediaannya menjadi instruktur batik secara gratis sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan mengembangkan seni batik, khususnya Batik Saluan.
Siti Maisaro juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki perpustakaan buku di lingkungan keluarga untuk mendukung peningkatan minat baca. Hal tersebut menjadi contoh bahwa budaya literasi dapat ditumbuhkan mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, kemudian dikembangkan ke lingkungan masyarakat.
Dalam sesi diskusi, Ogi Saputera dari Program Studi Keperawatan Luwuk turut mengajukan pertanyaan mengenai alasan membaca buku dianggap memiliki kelebihan dibandingkan membaca melalui telepon genggam.
Pertanyaan tersebut membuka ruang pembahasan mengenai perbedaan kebiasaan membaca melalui media cetak dan perangkat digital, termasuk tantangan mempertahankan konsentrasi di tengah banyaknya distraksi dari layar telepon pintar.
Teknologi Harus Menjadi Alat, Bukan Pengendali
Menanggapi berbagai pertanyaan peserta, Sekretaris Diskominfo Banggai menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola konsumsi informasi masyarakat, termasuk kebiasaan membaca.
Menurutnya, perhatian pengguna media sosial kerap tersita oleh konten yang terus bergulir dan mekanisme algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Kondisi ini dapat membuat seseorang menghabiskan banyak waktu tanpa memperoleh manfaat yang sebanding.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih terarah dalam menggunakan media sosial, yakni dengan menentukan tujuan dan memanfaatkannya untuk mencari informasi yang relevan serta mendukung aktivitas sehari-hari.
Terkait penggunaan AI, ia menilai teknologi tersebut dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara tepat. Namun, pengguna harus tetap mampu mengendalikan pemanfaatannya, bukan justru bergantung sepenuhnya pada hasil yang diberikan.
Pengguna perlu membaca, memahami, serta mengevaluasi informasi yang dihasilkan AI sebelum menjadikannya sebagai rujukan atau menggunakannya untuk menghasilkan karya.
Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana pendukung kreativitas dan produktivitas, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis maupun proses belajar.
Festival Berlangsung Empat Hari
Ibu Chida menjelaskan bahwa rangkaian Festival Literasi tersebut berlangsung selama empat hari, mulai Selasa (20/10/2026) hingga Jumat (23/10/2026).
Menurut keterangannya, kegiatan dibuka oleh Wakil Bupati Banggai, Furqanuddin Masulili, pada Selasa (20/10/2026). Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan talk show yang menghadirkan Wakil Bupati sebagai narasumber.
Pada Kamis (22/10/2026), kegiatan kembali dilaksanakan dengan menghadirkan narasumber dari Diskominfo Banggai yang diwakili Sekretaris Dinas serta kalangan jurnalis melalui Ketua DPC PJS Banggai, Abdul Muis Tunekon.
Rangkaian kegiatan tersebut direncanakan ditutup pada Jumat (23/10/2026).
Melalui Festival Literasi ini, Dinas Perpustakaan Banggai diharapkan dapat terus memperkuat budaya membaca, mendorong kreativitas generasi muda, serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya literasi digital.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah kemudahan akses informasi dan perkembangan kecerdasan buatan, kemampuan membaca, memeriksa kebenaran informasi, berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. (rin)

Social Header