Breaking News

Suara Petani Daun Kelapa untuk Bursa Ketua PSSI Sulteng, "Jangan Hanya Banyak Event, Mana Bibit Atletnya ?"

Sulteng - Pertarungan memperebutkan kursi Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sulawesi Tengah periode mendatang semakin ketat. Sejumlah nama mulai bermunculan dengan jualan program andalan: banyaknya event dan turnamen yang telah mereka buat.

Namun, pandangan berbeda justru datang dari akar rumput. Fajry Litiloly, yang akrab disapa Jijing, seorang petani daun kelapa yang hobi berat tentang sepak bola, memberikan kritik pedas dan refleksi jujur yang seharusnya menjadi tamparan bagi para calon ketua.

Menurut Jijing, kemajuan sepak bola di Sulawesi Tengah bukan diukur dari seberapa banyak panggung turnamen yang dibuat, melainkan dari seberapa serius pembinaan usia dini dilakukan.

"Untuk kemajuan sepak bola di Sulawesi Tengah, bukan hanya mengandalkan banyak ivent-ivent tournament di buat. Tapi bagaimana melakukan pembinaan sepak bola mulai dari usia 7 tahun, 10 tahun sampai 17 tahun. Di mulai dari tingkat desa dan kelurahan, agar ke depan banyak atlit lahir dari Sulawesi Tengah," ujar Jijing kepada media ini, Kamis (30/10).

Ia mempertanyakan esensi dari maraknya turnamen yang hanya bersifat seremonial tanpa output yang jelas.

"Buat apa banyak ivent kalau tidak mampu menciptakan atlit-atlit unggul. Contoh dari beberapa tahun ini banyak ivent yang di buat tapi apa hasilnya ? Nol," tegasnya dengan nada kecewa.

Menurutnya, selama ini Sulteng hanya menjadi penonton di kancah sepak bola nasional. Tidak ada pemain profesional yang benar-benar lahir dari sistem pembinaan yang terstruktur di daerah. Event hanya menghabiskan anggaran, tapi pembinaan nihil.

"Nah, harusnya ini yang menjadi tugas utama untuk para calon Ketua PSSI Sulawesi Tengah. Bukan soal siapa paling banyak bikin turnamen," tambahnya.

Jijing yang mengaku sebagai anak petani daun kelapa itu pun menitipkan harapan besar kepada para pemilik hak suara (voters) dalam pemilihan Ketua PSSI Sulteng nanti.

"Harapan dari anak petani daun kelapa kepada yang punya hak suara untuk pemilihan ketua PSSI. Jangan melihat soal jumlah banyak ivent yang di buat. Tapi lihatlah visi misi yang betul-betul mampu membawa sepak bola Sulawesi Tengah maju dan berkembang," tutupnya.

Pendapat warga biasa ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan soal euforia turnamen sesaat. Sepak bola adalah tentang investasi jangka panjang. PSSI Sulteng butuh arsitek pembinaan, bukan sekadar Event Organizer (EO). Voters harus cerdas memilih, apakah ingin Sulteng terus jadi penonton atau ingin Sulteng melahirkan Marcelino, Pratama Arhan dan Ramadhan Sananta ?

Penulis : Redaksi
Sumber : Wawancara Langsung
© Copyright 2022 - MITRAPERS ONENEWS